Tak ada yang berbeda dari tatapanmu dan senyummu padaku pagi itu. Segalanya masih sama. Indah jika kita sedng berdua dalam suka. Seperti biasa kau mencandaiku dengan gaya khasmu yang jahil dan akupun sebaliknya, tetap saja tergoda olehmu walaupun candaanmu selalu kau ulang setiap harinya. Iya: aku tak pernah merasa bosan dengan candaanmu,
Tapi semuanya berubah. Tawamu lenyap. Candaanmu hilang. Kau diam. Ketika pada tengah percakapan hangat kita aku bilang padamu bahwa aku akan "meninggalkanmu" segera. Cepat atau lambat kau tak akan melihat wajahku yang bundar katamu. Pipiku yang kenyal. Dan bibir monyongku. Aku memang harus pergi. Jujur, ini bukan mauku. Ini keinginan orangtuaku dan kewajiban bapakku sebagai salah satu kepala divisi yang harus siap dipindh tugaskan kemana dan kapan saja.
Awalnya aku tak ingin kau mengetahui dahulu namun toh aku pikir cepat atau lambat kau pasti tahu tantang hal ini. Aku merasa bersalah ketika sebenarnya aku telah melanggar janjiku untuk tetap bersamamu. Bukan hanya kau yang sedih, sayang. Aku juga sangat sedih mendengar kabar yang entah harus kukategorikan sebagai kabar baik atau buruk ini.
Aku sadar bahwa beberapa bulan lagi, aku tak bisa memeluk tubuh tinggimu, aku tak bisa lagi menjambak rambutmu. Mencium pipimu. Membuatmu marah dan cemburu. Dan aku tak bisa lagi mengungkapkan rinduku melalui senyum malu-malu setelah kau cium. Aku harus melipat rindu diantara kertas-kertas tugas, berkas pindahan, foto dalam dompet dan tiket nonton bioskop yang baru beberapa hari lalu kita beli.
Rindu yang aku miliki harus kulipat kecil-kecil dalam jarak ratusan kilometer. Iya; melipat rindu.
Surabaya, 26 April 2014
Untuk kau yang bersedia menangis untukku
No comments:
Post a Comment