Tuesday, 6 May 2014

Rindu Kala Temu

Merindukanmu itu seperti mengharapkan es buah saat puasa. Seperti mengharapkan uang ratusan ribu saat akhir bulan. Seperti mengharapakan pesawat terbang turun ke air. Iya; merindukanmu itu mudah timbul namun tak akan pernah mudah untuk dihilangkan. Seperti sekarang ini, yang aku tau aku memang sedang merindukanmu. Aku tak peduli telah berapa lama kita bertemu. Entah sebentar atau lama. Aku memang sedang merindukanmu.

Belum lagi masalah jaringan kartu provider yang aku gunakan. Ini sungguh sangat menyiksa. Aku sudah mengeluh kebeberapa orang teman tentang masalah kartu provider ini. Namun, mereka juga mengalami hal yang sama denganku. Ini sebenarnya ada apa dengan kartu provider yang aku gunakan?. Aku juga sudah mengeluh padamu. Kita sama-sama gemas dengan ulah kartu provider ini.

Sore ini, aku sebenarnya telah berharap ada sms masuk tentang kabarmu. Namun, handphone yang sejak siang tadi bertengger manis di atas buku bacaan milik ibuku itu tak bergerak dan berbunyi sama sekali. Aku tahu ini bukan salahmu dan salahku. Ini hanya masalah jaringan provider yang memang sedang rewel akhir-akhir ini. Iya.

Tapi rindu itu kini telah melebuh dalam temu. Iya; senin kemarin tanggal 5 Mei 2014. Aku dan kamu serta temu itu telah melebur jadi satu dalam riuhnya tawa suka cita kita. Untuk yang kesekian kalinya, aku memelukmu mengungkapkan rinduku tanpa banyak kata. Kamu memelukku, mengungkapkan rindu dengan nada yang seirama. Sungguh temu kali ini terasa berbeda karena sebelumnya memang aku kamu buat cemburu terlebih dahulu. Sungguh, aku sebal padamu. Kamu ini tahu apa tidak kalau aku merindukanmu.

Setelah itu memang kamu menyuruhku untuk membicarakan apa yang aku rasakan, katamu segala sesuatu akan terasa lebih mudah jika dibicarakan. Iya; memang benar. Namun masak kamu belum mengerti juga dari sorot mataku padamu dan padanya?. AKU INI CEMBURU. AKU TIDAK SUKA melihat kamu pun hanya sekedar guyon kecil dengannya. AKU MEMEBENCINYA. Yasudah, aku menyerah. Aku mengetakannya padamu dengan suara yang malu-malu dan sedikit geram. Kamu meminta maaf. Ya; kita berbaikan dan ternyata tetap saja aku rindu pun seusai kita bertemu.

Karena merindukanmu itu seperti menghitung pasir di pantai. Tidak akan pernah habis.

Surabaya.

No comments:

Post a Comment