Tuesday, 31 December 2013
Sunday, 29 December 2013
Perbedaan Itu...
Bagiku perbedaan itu wajar. Segala hal yang tak sama itu indah. Bukankah Tuhan memang menyatukan hal yang berbeda? Bukankah Tuhan memang menjodohkan hal yang tak sama?. Iya. Seperti aku dan kamu. Kamu dan aku sangatlah berbeda. Aku tak pernah mengerti bagaimana rasa ini tumbuh menjalar di dinding hati. Tentu, hatiku dan hatimu.
Awalnya memang aku tak pernah melintaskan namamu dalam list pikiranku. Jangankan untuk melintaskan, mengenalmu secara dekat pun aku tak pernah. Mungkin begitu juga kau, bukan?. Kamu memang keanehan tersendiri untukku. Aku tak pernah menaruh perhatian lebih padamu pada awalnya. Aku hanya mengetahui namamu. Iya. Nama yang bagus, yang sampai sekarang aku tetap menyukai namamu. Aku pernah berfikir jauh, kelak jika aku mempunyai anak laki-laki akan aku beri nama seperti namamu. Iya; itu awal yang aku fikirkan tentang namamu. Aku berlanjut pada kehidupanku seperti biasanya. Tak ada yang aneh antara aku dan kamu. Iya; BIASA SAJA.
Sampai pada saat dimana Tuhan telah menitipkan rasa yang luar biasa kepadaku. Aku menyukaimu. Kali ini bukan hanya namamu namun seluruhnya yang berada didirimu. Aku senang ketika melihatmu berjalan, aku senang ketika duduk berdampingan denganmu. Aku tidak pernah tahu bagaimana mengatur detak jantungku saat itu, kala itu jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku tidak pernah bisa menyembunyikan semburat merah di pipiku ketika temanku menyebut namamu dengan sengaja untukku. Iya? Aku juga tidak percaya pada awalnya bahwa aku jatuh cinta dengan orang sepertimu. Tapi sekali lagi, ini yang disebut perbedaan.
Aku yang selalu takut untuk melawan aturan dan kamu yang selalu dengan berani memilih aturanmu sendiri. Menyenangkan. Aku tak menghiraukan perbedaan kita. Hitammu yang merah muda bagiku dan merah mudaku yang hitam bagimu. Aku suka. Justru dari perbedaan inilah aku mampu menuliskan sebuah cerita yang tidak biasa. Iya; Aku bahagia.
Kediri, 30 Desember 2013
9:02 WIB
Saturday, 28 December 2013
Aku menuliskanmu dengan pena bertinta senja
Aku menuliskanmu dengan hiasan hujan bertema suka
Aku menuliskanmu dengan teman mendung bergelayut kelabu
Aku menuliskanmu dengan rindu
Kau tahu?
Aku tak pandai menuliskanmu
Aku tak cerdas dalam merindukanmu
Namun, aku tau cara mencintaimu
Tak sehangat kopi yang kau seduh
Aku membelaimu
Tak senikmat rokok yang kau hisap
Aku menyentuhmu
Aku tak pintar menuliskan diskripsi tentangmu
Aku terlalu bodoh untuk menuliskan segala sesuatumu
Namun aku cukup cerdik dalam mencintai kekuranganmu
Sajak ini aku tulis ketika aku merindukanmu
Sajak ini aku buat ketika aku memikirkan tentangmu
Sayang; Tak ada hujan yang mengiringi tulisanku
Aku menuliskanmu dengan hiasan hujan bertema suka
Aku menuliskanmu dengan teman mendung bergelayut kelabu
Aku menuliskanmu dengan rindu
Kau tahu?
Aku tak pandai menuliskanmu
Aku tak cerdas dalam merindukanmu
Namun, aku tau cara mencintaimu
Tak sehangat kopi yang kau seduh
Aku membelaimu
Tak senikmat rokok yang kau hisap
Aku menyentuhmu
Aku tak pintar menuliskan diskripsi tentangmu
Aku terlalu bodoh untuk menuliskan segala sesuatumu
Namun aku cukup cerdik dalam mencintai kekuranganmu
Sajak ini aku tulis ketika aku merindukanmu
Sajak ini aku buat ketika aku memikirkan tentangmu
Sayang; Tak ada hujan yang mengiringi tulisanku
Kediri, 19:30 WIB. Telkom
Tentang Aku, Kau, Hujan dan Masa Depan.
Awalnya aku hanya mengenalmu sekilas. Kita tidak dekat, kita hanya saling menatap itupun tak lekat. Aku hanya memandangmu sekilas, aku tak pernah tertarik pada sosokmu. Mungkin kau juga begitu saat itu. Hanya mengetahuiku dari namaku yang mungkin bagimu aneh. Aku tak pernah peduli dengan kehadiranmu. Mungkin kau juga begitu, tak pernah peduli dengan apa yang terjadi padaku. Sampai pada akhirnya, Tuhan telah menitipkan rasa ini padaku. Aku bingung. Rasa apa ini. Ketika kau mulai memperhatikan kehadiranku, ketika kau mulai peduli dengan apa yang terjadi padaku. Aku bukan malah risih dengan perhatianmu, justru aku bahagia saat kau ada di dekatku. Iya; memperhatikan aku.
Kau adalah anugerah tersembunyi yang baru Tuhan munculkan ketika aku mulau pesimis akan percintaan. Iya; kau tahu bukan, aku adalah korban perasaan dari sang mantan. HAHA ! lucu? tidak sama sekali. Aku justru mampu tertawa lepas ketika bersamamu. Aku justru mampu tertawa hingga terpingkal-pingkal juga saat bercakap denganmu. Entah, apa yang menarik dari sosokmu. Aku susah untuk menjelaskannya. Yang aku tahu, aku hanya bahagia saat bersamamu. Terlebih saat ini.
Tentang hujan. Kau tahu? Awalnya aku sangat takut pada hujan. Bagiku, hujan adalah siksaan batin yang luar biasa. Aku takut. Jantungku selalu berdegup lebih cepat ketika Sang Esa menurunkan anugerahnya. Aku tak bersyukur ketika orang lain bersyukur menerima anugerah-Nya. Iya; kenangan masa lalu yang membuat aku begini. Kenangan buruk tentang hujan. Sedangkan kau? Kau sangat menggilai hujan. Kau sangat bahagia ketika hujan. Entah, kenapa kita bisa bertolak belakang seperti ini. Ketika aku menceritakan penyebab ketakutanku pada hujan, kau tersenyum sembari mendengarkan. Ketika aku selesai bercerita. Kau mulai mengemukakan saranmu padaku. Kau berjanji akan membantuku unutk menghapus kenangan buruk tentang hujan. Dengan sabar kau mengajariku cara mencintai hujan. Hingga waktu terus berjalan. Iya; tak lama. Aku mulai mencintai hujan. Bahkan aku mulai menggilainya sekarang. Iya, itu semua karena semangat darimu telah mengubah presepsiku tentang hujan. Iya; Kau Hujanku.
Tentang Rindu. Aku tak pernah merasakan rindu yang sebesar ini. Kau yang membuat aku merasakan rindu yang sebesar ini. Aku gelabakan ketika mula kubuka mata dan mengingatmu, seketika itu juga rindu menyeringai di lubuk hatiku. Ketika jauh dan tak bersamamu, rasanya duniaku berhenti. Iya itu tanda aku merindukanmu. Iya; Kau Rinduku.
Tentang masa depan. Aku telah menjatuhkan percayaku padamu. Terlebih ketika kau menyediakan bahu untukku. Tentang masa depanku, aku telah menuliskannya denganmu. Aku tak mengerti, apakah aku terlalu berlebihan atau entahlah. yang jelas, aku telah menuliskan masa depanku denganmu. Kupercayakan segenap hati dan rasaku hanya padamu. Iya; Kau Masa Depanku.
Kau Hujanku
Pagiku beku
Dingin menerpaku
Merasuk kedalam sendiku
Menusuk tulang-tulangku
Sendiku ngilu
Terlebih ketika mengingatmu
Iya; Aku rindu
Aku kebingungan
Aku gelabakan
Ketika sang Esa mulai menurunkan
Iya; Hujan semalam
Merindumu ketika hujan
Telah menjadi kebiasaan
Mengingatmu ketika gerimis
Telah aku biasakan
Kau Hujanku
Kau telah menjadi rindu ketika hujan
Kau telah membiasakan aku menjadi penikmat anugerah Sang Esa
Hujan.
Kau yang telah mengajarkanku arti bersyukur
Iya; bersyukur atas nikmat Sang Esa ketika hujan
Sekali lagi. Kau Hujanku.
Kediri, 28 Desember 2013
'Untuk kau yang sedang kurindukan'
Tuesday, 15 October 2013
Kerinduanku
Rasanya begitu cepat. Namun dalam hati masih ada yang tidak tepat. Aku dan kamu telah melekat. Seakan tak akan ada karat. Aku masih bingung dengan perasaan aneh ini. Memang. Aku akui aku sangat mengagumimu awalnya. Namun, setelah aku mendapatkan perhatianmu aku merasa hambar. Sangat hambar dibanding yang sebelumnya.
Sedangkan kamu? Kamu lebih peduli padaku dibanding yang sebelumnya. Aku senang. Iya. Hanya sebatas senang dan aku tak tau mengapa aku hanya senang, namun tak sesenang seperti yang aku rasakan saat aku belum memilikimu. Sayang, aku senang kau begitu. Namun, aku takut mengecewakanmu. Setiap aku menerima kejutan darimu, aku hanya tersenyum. Oh tidak. Tepatnya, aku hanya pura-pura tersenyum. Aku merasa kejutanmu itu terlalu berlebihan hanya untuk memperingati hari jadian kita, yang jujur aku telah melupakannya.
Aku semakin membohongi perasaanku. Tuhan. Maafkan aku. Sayang, maafkan aku. Ketika hari itu terjadi lagi, aku hanya mampu menghela nafas panjang. Ketika hari dimana aku menghancurkan perasaanmu sayang. Ketika hari dimana aku menjadi monster yang sangat kejam dihadapanmu sayang. Ketika aku dan kamu telah menjadi dua sisi yang berbeda dengan jalan yang tak sama lagi.
"Maafkan aku, aku tak bisa bersamamu terus" kataku dengan suara tertahan
"Hey ! Apa salahku padamu sayang? Aku terlalu berlebihan? " jawabmu dengan tangis tak tertahankan.
"Tidak. Kam tak berlebihan. Hanya aku saja yang belum mampu.... " Aku gtak melanjutkan kata-kataku ketika aku dengan sebuah mobil menabrak sesuatu.
Kamu ! Kenapa kau lakukan itu. Tuhan ! Cobaan apa lagi ini. Aku telah membunuh dia. Dia yang mencintaiku.
Tak kuhiraukan bajuku kotor berlumur darah. Ini. Aku yang menyebabkannya. Aku yang salah. Aku yang menyebabkan kau begini. AKU ! AKU PEMBUNUH !
Sejak hari itu, aku tak pernah melihatmu lagi. Jelas. Karena kau telah tiada. Selamanya.
Kadang aku masih merindukan apapun yang kau lakukan. Surprise kecil untuk memperingati hari jadian kita. Bunga mawar yang selalu kau bawa saat kita makan berdua. Ah~ ternyata aku masih merindukanmu, Sayang. Masih. Dan hingga saat ini.
Kediri, 15 Oktober 2013
20:38 WIB
Wednesday, 2 October 2013
Ingatkah, Kawan
Ingatkah kau kawan
Saat kita masih sama-sama berjuang
Saat kita masih sama-sama terbuang
Saat kita tak terperhatikan
Atau aku yang mungkin lupa kawan?
Saat kau memegang bahuku
Saat kau memberi semangat untukku
Saat kau dan aku masih saling berteriak "kawan"
Namun, tak kau ingat kawan
Sekarang kau telah menjadi sosok yang baru
Sekarang kau telah berada diposisimu
Sekarang kau telah nyaman dengan tempatmu
Aku menangis kawan
Ketika sebuah mata menatapku
Ketika mata itu berpaling dariku
Apakah kau tak ingat aku?
Kau tak ingat kawan?
Bagaimana dulu kusediakan telinga, tangan, bahu
Hanya untukmu
Mendengarkanmu, menyemangatimu, membiarkan kau menangis demi sebuah kelegaan
Tapi sekarang?
Dimana kau?
Kau lupa bahwa ketika dulu saat kita terbuang
Kau lupa ketika kita sama-sama diremehkan
Kau lupa? Atau mungkin kau melupakannya?
Subscribe to:
Comments (Atom)