Wednesday, 15 January 2014

P E R P I S A H A N

Mendung kembali menggelayut
Paparan sinar matahari yang panas seakan terkalahkan
Iya; mendung
Bukan mendung di langit sana
Tapi disini (hati)
Perpisahan lagi? Iya? Jauh lagi? Benar?
Sebenarnya, aku tak dapat mendefinisikan arti perpisahan
P-E-R-P-I-S-A-H-A-N !
Yang aku tahu, itu menyakitkan
Aku harus bergumul lagi dengan jarak
Aku harus harap-harap cemas lagi tentang kabar
Belum lagi tentang rindu, kegelisahan, kecemasan
Entahlah.
Aku selalu takut dengan kata perpisahan
Seperti pagi ini, siang ini, dan hampir sore ini
Ini hari terakhir kita
Iya untuk saling memandang, tertawa, dan bercerita
ESOK?
Mungkin kita akan bertemu juga esok? Tidak !
Kita akan kembali pada kampung halaman masing-masing
Aku akan kembali menikmati indahnya kampung halamanku
Kau pun begitu. Bersua dengan teman-teman masa kecilmu
Tapi, aku berat sebenarnya
Iya; berat melepasmu
Diantara banyak kata yang kau ucapkan tadi
Aku hanya lamat-lamat mendengarkan
Aku memilih diam. Bungkam.
Diantara segala candaan yang kau hadirkan
Aku hanya menikmati seulas senyum ketulusan
Tawa terkekehmu yang mungkin akan selalu aku rindukan saat aku berada di kampung halaman
Aku lebih memilih menikmati hangat gandengan tanganmu
Iya; kemanapun kau melangkah, tak kau lepaskan gandengan itu
Aku lebih memilih diam mengamati setiap jengkal dari mimik mukamu
Yang akan selalu membuatku susah tidur selama beberapa minggu kedepan
Iya; terlebih karena RINDU yang akan tersimpan hingga pertemuan datang

Surabaya 15 Januari 2014
"Perpisahan"

Friday, 3 January 2014

Hujanku


Hujanku datang

Menyerbu. Dingin

Kaki dan tanganku beku

Kedinginan

Aku menggigil

Kuhempaskan seluruh rinduku pada hujan

Dibawah rintik yang mesra menerpaku

Dibawah kilatan petir yang seakan memotretku

Benar. Ini hujan untukku

Betapa aku ingin bermain dan menenggelamkan seluruh cintaku padanya

Dan seolah dia pun begitu, bergelayut mesra membasahi tubuhku

Kini aku telah basah karenanya

Aku menikmati kebasahanku

Aku berlari-lari kecil bersama rintik itu. Mesra.

Kemudian, kurebahkan tubuhku di bawah guyuran hujan itu

Memandang betapa indah rintik yang turun membasahiku

Aku memejamkan mata, pelan.

Aku merasakan betapa rintik itu kini menari membasahi tubuhku

AAHHH !!! aku menyukaimu. aku senang bercengkrama denganmu.
 rintikku.

Basahi aku, tenggelamkan aku, bawa aku. Selalu kedalam basahmu.


Sidoarjo, Hujan.
16:25 WIB

Tuesday, 31 December 2013

Siksaan; Rindu

 

 

Rindu ini menyiksaku

Terlebih dengan tak ada kabar darimu

Aku resah, gelisah dalam hati

Ingin kusembunyikan semburat khawatir di wajahku

Namun, aku tak bisa membohongi perasaanku

Aku hanya memandang langit kelabu

Sendirian; Tanpamu

Aku hanya berbicara dalam hati "apakah aku bagimu?"

Aku merindumu

Dengan segenap peluhku, ku tahan laju rinduku

Namun, aku gagal. 

Aku tak berhasil menahannya

Aku meluap ! Rinduku menggambarkan semburat kelabu

Hanya untukmu.


KEDIRI, 31 DESEMBER 2013

21:15 WIB

Sunday, 29 December 2013

Perbedaan Itu...



Bagiku perbedaan itu wajar. Segala hal yang tak sama itu indah. Bukankah Tuhan memang menyatukan hal yang berbeda? Bukankah Tuhan memang menjodohkan hal yang tak sama?. Iya. Seperti aku dan kamu. Kamu dan aku sangatlah berbeda. Aku tak pernah mengerti bagaimana rasa ini tumbuh menjalar di dinding hati. Tentu, hatiku dan hatimu. 

Awalnya memang aku tak pernah melintaskan namamu dalam list pikiranku. Jangankan untuk melintaskan, mengenalmu secara dekat pun aku tak pernah. Mungkin begitu juga kau, bukan?. Kamu memang keanehan tersendiri untukku. Aku tak pernah menaruh perhatian lebih padamu pada awalnya. Aku hanya mengetahui namamu. Iya. Nama yang bagus, yang sampai sekarang aku tetap menyukai namamu. Aku pernah berfikir jauh, kelak jika aku mempunyai anak laki-laki akan aku beri nama seperti namamu. Iya; itu awal yang aku fikirkan tentang namamu. Aku berlanjut pada kehidupanku seperti biasanya. Tak ada yang aneh antara aku dan kamu. Iya; BIASA SAJA.

Sampai pada saat dimana Tuhan telah menitipkan rasa yang luar biasa kepadaku. Aku menyukaimu. Kali ini bukan hanya namamu namun seluruhnya yang berada didirimu. Aku senang ketika melihatmu berjalan, aku senang ketika duduk berdampingan denganmu. Aku tidak pernah tahu bagaimana mengatur detak jantungku saat itu, kala itu jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku tidak pernah bisa menyembunyikan semburat merah di pipiku ketika temanku menyebut namamu dengan sengaja untukku. Iya? Aku juga tidak percaya pada awalnya bahwa aku jatuh cinta dengan orang sepertimu. Tapi sekali lagi, ini yang disebut perbedaan.

Aku yang selalu takut untuk melawan aturan dan kamu yang selalu dengan berani memilih aturanmu sendiri. Menyenangkan. Aku tak menghiraukan perbedaan kita. Hitammu yang merah muda bagiku dan merah mudaku yang hitam bagimu. Aku suka. Justru dari perbedaan inilah aku mampu menuliskan sebuah cerita yang tidak biasa. Iya; Aku bahagia.


Kediri, 30 Desember 2013
9:02 WIB

Saturday, 28 December 2013

Aku menuliskanmu dengan pena bertinta senja
Aku menuliskanmu dengan hiasan hujan bertema suka
Aku menuliskanmu dengan teman mendung bergelayut kelabu
Aku menuliskanmu dengan rindu

Kau tahu?
Aku tak pandai menuliskanmu
Aku tak cerdas dalam merindukanmu
Namun, aku tau cara mencintaimu

Tak sehangat kopi yang kau seduh
Aku membelaimu
Tak senikmat rokok yang kau hisap
Aku menyentuhmu

Aku tak pintar menuliskan diskripsi tentangmu
Aku terlalu bodoh untuk menuliskan segala sesuatumu
Namun aku cukup cerdik dalam mencintai kekuranganmu

Sajak ini aku tulis ketika aku merindukanmu
Sajak ini aku buat ketika aku memikirkan tentangmu
Sayang; Tak ada hujan yang mengiringi tulisanku

Kediri, 19:30 WIB. Telkom
 


Tentang Aku, Kau, Hujan dan Masa Depan.




Awalnya aku hanya mengenalmu sekilas. Kita tidak dekat, kita hanya saling menatap itupun tak lekat. Aku hanya memandangmu sekilas, aku tak pernah tertarik pada sosokmu. Mungkin kau juga begitu saat itu. Hanya mengetahuiku dari namaku yang mungkin bagimu aneh. Aku tak pernah peduli dengan kehadiranmu. Mungkin kau juga begitu, tak pernah peduli dengan apa yang terjadi padaku. Sampai pada akhirnya, Tuhan telah menitipkan rasa ini padaku. Aku bingung. Rasa apa ini. Ketika kau mulai memperhatikan kehadiranku, ketika kau mulai peduli dengan apa yang terjadi padaku. Aku bukan malah risih dengan perhatianmu, justru aku bahagia saat kau ada di dekatku. Iya; memperhatikan aku.

Kau adalah anugerah tersembunyi yang baru Tuhan munculkan ketika aku mulau pesimis akan percintaan. Iya; kau tahu bukan, aku adalah korban perasaan dari sang mantan. HAHA ! lucu? tidak sama sekali. Aku justru mampu tertawa lepas ketika bersamamu. Aku justru mampu tertawa hingga terpingkal-pingkal juga saat bercakap denganmu. Entah, apa yang menarik dari sosokmu. Aku susah untuk menjelaskannya. Yang aku tahu, aku hanya bahagia saat bersamamu. Terlebih saat ini.

Tentang hujan. Kau tahu? Awalnya aku sangat takut pada hujan. Bagiku, hujan adalah siksaan batin yang luar biasa. Aku takut. Jantungku selalu berdegup lebih cepat ketika Sang Esa menurunkan anugerahnya. Aku tak bersyukur ketika orang lain bersyukur menerima anugerah-Nya. Iya; kenangan masa lalu yang membuat aku begini. Kenangan buruk tentang hujan. Sedangkan kau? Kau sangat menggilai hujan. Kau sangat bahagia ketika hujan. Entah, kenapa kita bisa bertolak belakang seperti ini. Ketika aku menceritakan penyebab ketakutanku pada hujan, kau tersenyum sembari mendengarkan. Ketika aku selesai bercerita. Kau mulai mengemukakan saranmu padaku. Kau berjanji akan membantuku unutk menghapus kenangan buruk tentang hujan. Dengan sabar kau mengajariku cara mencintai hujan. Hingga waktu terus berjalan. Iya; tak lama. Aku mulai mencintai hujan. Bahkan aku mulai menggilainya sekarang. Iya, itu semua karena semangat darimu telah mengubah presepsiku tentang hujan. Iya; Kau Hujanku.

Tentang Rindu. Aku tak pernah merasakan rindu yang sebesar ini. Kau yang membuat aku merasakan rindu yang sebesar ini. Aku gelabakan ketika mula kubuka mata dan mengingatmu, seketika itu juga rindu menyeringai di lubuk hatiku. Ketika jauh dan tak bersamamu, rasanya duniaku berhenti. Iya itu tanda aku merindukanmu. Iya; Kau Rinduku.

Tentang masa depan. Aku telah menjatuhkan percayaku padamu. Terlebih ketika kau menyediakan bahu untukku. Tentang masa depanku, aku telah menuliskannya denganmu. Aku tak mengerti, apakah aku terlalu berlebihan atau entahlah. yang jelas, aku telah menuliskan masa depanku denganmu. Kupercayakan segenap hati dan rasaku hanya padamu. Iya; Kau Masa Depanku.

Kau Hujanku

Pagiku beku

Dingin menerpaku

Merasuk kedalam sendiku

Menusuk tulang-tulangku

Sendiku ngilu

Terlebih ketika mengingatmu

Iya; Aku rindu

Aku kebingungan 

Aku gelabakan 

Ketika sang Esa mulai menurunkan

Iya; Hujan semalam

Merindumu ketika hujan 

Telah menjadi kebiasaan

Mengingatmu ketika gerimis 

Telah aku biasakan

Kau Hujanku

Kau telah menjadi rindu ketika hujan

Kau telah membiasakan aku menjadi penikmat anugerah Sang Esa

Hujan. 

Kau yang telah mengajarkanku arti bersyukur

Iya; bersyukur atas nikmat Sang Esa ketika hujan

Sekali lagi. Kau Hujanku.

Kediri, 28 Desember 2013

'Untuk kau yang sedang kurindukan'