Awalnya aku hanya mengenalmu sekilas. Kita tidak dekat, kita hanya saling menatap itupun tak lekat. Aku hanya memandangmu sekilas, aku tak pernah tertarik pada sosokmu. Mungkin kau juga begitu saat itu. Hanya mengetahuiku dari namaku yang mungkin bagimu aneh. Aku tak pernah peduli dengan kehadiranmu. Mungkin kau juga begitu, tak pernah peduli dengan apa yang terjadi padaku. Sampai pada akhirnya, Tuhan telah menitipkan rasa ini padaku. Aku bingung. Rasa apa ini. Ketika kau mulai memperhatikan kehadiranku, ketika kau mulai peduli dengan apa yang terjadi padaku. Aku bukan malah risih dengan perhatianmu, justru aku bahagia saat kau ada di dekatku. Iya; memperhatikan aku.
Kau adalah anugerah tersembunyi yang baru Tuhan munculkan ketika aku mulau pesimis akan percintaan. Iya; kau tahu bukan, aku adalah korban perasaan dari sang mantan. HAHA ! lucu? tidak sama sekali. Aku justru mampu tertawa lepas ketika bersamamu. Aku justru mampu tertawa hingga terpingkal-pingkal juga saat bercakap denganmu. Entah, apa yang menarik dari sosokmu. Aku susah untuk menjelaskannya. Yang aku tahu, aku hanya bahagia saat bersamamu. Terlebih saat ini.
Tentang hujan. Kau tahu? Awalnya aku sangat takut pada hujan. Bagiku, hujan adalah siksaan batin yang luar biasa. Aku takut. Jantungku selalu berdegup lebih cepat ketika Sang Esa menurunkan anugerahnya. Aku tak bersyukur ketika orang lain bersyukur menerima anugerah-Nya. Iya; kenangan masa lalu yang membuat aku begini. Kenangan buruk tentang hujan. Sedangkan kau? Kau sangat menggilai hujan. Kau sangat bahagia ketika hujan. Entah, kenapa kita bisa bertolak belakang seperti ini. Ketika aku menceritakan penyebab ketakutanku pada hujan, kau tersenyum sembari mendengarkan. Ketika aku selesai bercerita. Kau mulai mengemukakan saranmu padaku. Kau berjanji akan membantuku unutk menghapus kenangan buruk tentang hujan. Dengan sabar kau mengajariku cara mencintai hujan. Hingga waktu terus berjalan. Iya; tak lama. Aku mulai mencintai hujan. Bahkan aku mulai menggilainya sekarang. Iya, itu semua karena semangat darimu telah mengubah presepsiku tentang hujan. Iya; Kau Hujanku.
Tentang Rindu. Aku tak pernah merasakan rindu yang sebesar ini. Kau yang membuat aku merasakan rindu yang sebesar ini. Aku gelabakan ketika mula kubuka mata dan mengingatmu, seketika itu juga rindu menyeringai di lubuk hatiku. Ketika jauh dan tak bersamamu, rasanya duniaku berhenti. Iya itu tanda aku merindukanmu. Iya; Kau Rinduku.
Tentang masa depan. Aku telah menjatuhkan percayaku padamu. Terlebih ketika kau menyediakan bahu untukku. Tentang masa depanku, aku telah menuliskannya denganmu. Aku tak mengerti, apakah aku terlalu berlebihan atau entahlah. yang jelas, aku telah menuliskan masa depanku denganmu. Kupercayakan segenap hati dan rasaku hanya padamu. Iya; Kau Masa Depanku.
huwaaah~ so sweet ~ dibikin cerpen bgus, loh, unge~ ^^
ReplyDeleteduh...kata2nya bener2 bikin rindu kenangan masa lalu
ReplyDelete