Hello Matahari.
Hari ini gerah, pengap. Terutama yang aku rasakan ketika aku memasuki sebuah kamar berpetak kecil dengan satu jendela di ujung ruangannya. Iya; banyak yang menyebut ini adalah kamar kos. Seusai lari tadi pagi, aku tidak langsung mandi namun aku lebih memilih masuk ke dalam kamar untuk sekedar berbaring melepas penat. Aku mengalihkan pandangan kepada benda kecil yang sering disebut handphone olah kaum remaja sekarang. Dengan seulas senyum kelelahan kuperiksa layar pada handphone ku. Aku memang berharap sekali ada sebuah pesan singkat masuk dan menyapaku dengan ucapan "Selamat Pagi Sayang" dari kamu, iya; kamu yang aku kasihi. Namun harapanku sia-sia. Mungkin aku telah lupa, bahwa kamu sangat membenci pagi, kamu selalu terlelap pada pagi hari seperti ini. Aku hanya tersenyum melihat harapan konyolku. Ku letakkan kembali handphone yang sedari tadi ku genggam. Aku beranjak menuju meja kecil yang terpasang cermin dicelahnya. Aku melihat lamat-lamat wajah bodohku. Wajah kelelahanku. Aku merasa, betapa bodoh diriku saat ini yang mengharapkan ucapan selamat pagi dari kamu yang jelas-jelas persetan dengan pagi.
Baiklah, lupakan kejadian dan harapan bodohku pagi tadi. Kini matahari kembali sombong dengan sinar megahnya. Aku selalu berucap dalam hati bahwa betapa Esa tuhan yang telah menciptakan cahaya yang tak akan ada habisnya. Iya, ini siang. Aku tak tahu harus melakukan apa. Karena memang hari ini tak ada kuliah. Aku hanya berdiam diri di dalam kamar sempit nan pengap ini. Hal pertama yang menggodaku untuk berbuat sesuatu adalah sebentuk benda yang sering disebut buku dan alat tulis yang sering disebut bolpoin. Aku tergoda untuk menjamahnya. Aku mengambil benda-benda tersebut, lalu aku mencoba menuliskan apa yang sedang aku rasakan. Namun sangat disayangkan, benda-benda ini tak berhasil menghiburku. Aku tetap tak bisa mengalihkan pikiranku kepada apapun. Pikiranku tetap dipenuhi oleh kamu yang hingga siang yang sangat jalang ini datang menghampiriku tetap tak ada kabar untukku. Aku mencoba melihat kembali handphone yang tergeletak lunglai di meja. Nihil!. Tak ada satu pesan pun dari kamu. Aku sangat takut pada siang yang seperti ini. Menunggu kabarmu yang tak pasti. Aku kau biarkan termakan siang; sendirian.
Surabaya. 22 Maret 2014
Kamar Kos, Lidah Wetan