Sunday, 16 March 2014

Tentang Menunggu

Kembali. Saya terdampar pada ruang sempit. Pengap. Panas. Iya; kamar kos saya. Entah apa yang saya pikirkan saat ini. Pikiran saya sedang berkecamuk. Hati saya juga sedang tak tentu. Saya gelisah. Saya resah. Saya sedang menunggu kabar seseorang disana, seseorang yang sangat saya sayangi. Dia. Laki-laki yang sekarang telah menemani hari-hari saya. Saya menunggunya. Handphone yang saya letakkan di atas rak buku, saya tengok beberapa kali dan hasilnya tetap nihil. Dia tak kunjung memberikan kabar. Saya sempat ingin menghubunginya terlebih dahulu, namun rasa kesal saya membuat saya mengurungkan niat untuk menghubunginya terlebih dahulu.

Beberapa jam lewat setelah dia berpamitan untuk perjalanan. Saya sangat gusar dibuatnya. Jujur, saya sangat tidak suka menunggu kabar yang belum tentau datangnya. Bukan karena saya malas namun saya terlalu takut jika ada apa-apa terjadi padanya. Kembali saya cek handphone yang saya letakkan di atas rak buku tersebut. Tetap tak ada satupun sms masuk. Saya semakin gelisah. 

Sembari menghibur diri, saya menyalakan mp3 yang sengaja saya pelankan suaranya. Entah lagu apa yang saya putar. Yang jelas lagu-lagu itu telah menemani saya menuju alam bawah sadar dan akhirnya saya tertidur pulas. Ya; beginilah jika saya terlalu lama menunggu. Kadang saya senang menunggu namun tak jarang saya lebih memilih tidur daripada harus harap-harap cemas tentang kabar. 

Surabaya, 16 Maret 2014
Menunggu kabar

No comments:

Post a Comment