Sambut saja pagi ini dengan senang. Sapa matahari yang sangat setia pada kita dengan sinarnya. Aku seperti biasa, akan sangat merindukan senja saat pagi datang seperti ini. Namun apa daya yang kupunya, aku tak mungkin protes kepadaNya bukan?. Iya, sudahlah lupakan kejadian pagi ini. Aku tetap melangkahkan kaki menuju kampus seperti biasanya. Semangat, tentunya. Aku behagia karena aku hari ini akan bertemu denganmu. Iya; kamu yang terkasih.
Kampus. Seperti biasa, suasana bising khas sekolah perguruan tinggi menyapa langkahku begitu aku masuk pada gerbang kampusku. Sebenarnya aku tidak ingin berangkat untuk mata kuliah yang satu ini. Namun, nyaliku tetap menciut jika aku harus bolos kuliah. Mau tidak mau aku harus berangkat. Baiklah, aku sampai di kampus dan seperti biasa, mataku mencari sosok yang sangat aku kasihi. KAMU. Namun mataku tak menemui sosokmu itu. Sudah berjam-jam berlalu, saat dosen datang, ternyata kamu berada tepat di belakang dosen mata kuliah tersebut. Betapa senang ketika melihatmu melangkahkan kaki dengan cueknya dan memilih duduk di sebelahku.
Namun, aku bingung ketika melihat raut mukamu. Kamu terlihat murung tak bersemangat. Entah karena alergi semalam yang kau alami atau apa aku juga tak sempat menanyakannya padamu. Yang jelas aku tak berani menanyakan apapun karena aku takut jika aku salah bertanya padamu. Aku diam saja atas sikapmu. Yasudah, aku berfikir bahwa kamu sedang tidak bersemangat karena alergimu.
Kamu mungkin tak pernah tahu betapa aku selalu menyimpan sesutu yang retak ketika kamu dekat dengan wanita lain. Aku memang terlalu pengecut jika harus mengungkapkannya padamu. Sekali lagi aku takut menyinggung perasaanmu. Sesuatu yang retak itu (hati) selalu aku rasakan ketika aku melihatmu bersama dia. Yang aku tahu sebatas ini kamu dan dia hanyalah teman. Iya; teman. Aku tak pernah tahu bagaimana hubungan kalian di belakangku. Kalian nampak dekat. Iya; aku kerap kali merasakan cemburu kepada dia, yang ku sebut teman wanitamu. Aku sering sekali tiba-tiba menangis sesenggukan di kamar; sendirian karena melihat kedekatanmu dan dia. Sungguh segalanya retak seketika. Aku takut kamu berpaling dan meninggalkanku. Sungguh, itu ketakutan terbesarku.
Surabaya, 20 Maret 2014
RETAK !
No comments:
Post a Comment