Saturday, 13 July 2013

Siapa ? (part II)


Ini aku. Kataku di depan cermin rumah berpetakku. Aku begitu bangga dengan diriku sendiri yang tanpa protokoler dari Ayah dan Ibuku. Betapa bebas aku sekarang? Betapa aku mampu menyimpan rindu yang sangat meluap ini. Ayah, jika aku boleh jujur aku merindukan ketegasanmu. Ibu, aku rindu pelukmu. Namun, aku sudah bertekat, aku tak ingin kembali sebelum aku sukses.

Kampus ku sangat ramai pagi ini. Seperti biasa aku menuju perpusatakaan sebelum ada jam kuliah. Membaca dan mencari informasi tentang sastra. Suka. Bahagia. Iya. Sangat. Aku sangat menikmati hidupku saat ini. Aku mulai menulis. Aku menulis sebuah novel yang telah aku kirim ke penerbit. Entah, ini langkah yang tepat  atau tidak. Yang jelas aku hanya ingin mencoba peruntunganku. 

2 Minggu setelah aku kirim naskah itu belum juga ada panggilan atau pun e-mail masuk ke alamat e-mail ku. Aku sudah tak berharap lebih dengan ini. Sudah mungkin belum waktuku untuk menuai sukses ku disini. Aku mencoba enjoy menunggu panggilan itu. Namun, tak pernah aku sangka dibalik keputusasaanku, sebuah e-mail masuk ke alamat e-mail ku.

Great ! Aku berhasil. Mereka mau menerima naskahku. Dan aku akan segera membuktikan kepada Ayah dan Ibuku. Aku sukses. Aku mampu berada di jalanku sendiri. Aku akan segera pulang. Aku merindukan kalian. Esoknya aku menemui pimpinan penerbit itu. Beliau berkata bahwa apa yang aku tulis sangatlah indah. Terimakasih. Rasa bangga menyelimuti hatiku. Tuhan, terimakasih atas anugerahMu. Terimaksih atas segala kemudahan yang Engkau beri.

Sehari setelah pelaunchingan bukuku. Kuberanikan datang ke rumah. Aku sudah berdiri di depan pagar besar itu. Menimang-nimang akankah aku masuk atau tidak. Namun dorongan rindu yang menggema di dalam hatiku selama bertahun-tahun akan Ayah dan Ibuku menepis semua keraguan dan ketakutan untuk menemui mereka. Ku tekan bel, keluarlah pembantu rumah tangga yang sudah bekerja pada kedua orang tuaku sejak aku kecil. Dia terkejut melihatku. Katanya aku tak berubah, aku tetap sperti dulu sebelum hidup bebas namun yang sekarang lebih cerah dan murah senyum. Ternyata dia tak lupa padaku.

Aku melangkah masuk. Aku dipersilahkan menunggu di ruang tamu. Selang beberapa menit, keluarlah dua orang yang sangat aku rindukan. Ayah. Ibu. Ayahku menatapku dengan wajah dingin khas beliau. Ibu terkejut dan kaget bercampur haru melihatku pulang. Mereka berdua memelukku. Aku merindukan kalian.

"Ayah, bangga padamu nak. Maafkan Ayah yang terlalu buta untuk melihat kemampuan mu" Kata Ayah dengan tangisan tertahan. Bahagia. Itu pertama kali Ayah berkata bahwa beliau bangga padaku. Tuhan terimakasih Engkau telah bersamaku dalam keadaan apapun.

Ini pembuktian nyata. Bahwa aku tak perlu menjadi orang lain untuk sukses. Jalan menjadi diri sendiri lebih baik dan indah jika kita bersungguh-sungguh.

13 Juli 2013
17:09

Thursday, 11 July 2013

Siapa ?


Dari lahir aku sudah didikte orang tuaku untuk menjadi apa yang mereka mau. Secara hak, aku tak pernah menemukan hakku di rumah ini. Bahkan aku tak dapat memerdekakan diriku sendiri. Semua serba protokol. Semua ada aturan dan perintah. Semua ada yang menjadwal. Aku tak bebas. Aku tak suka. Hingga saat ini aku tak pernah menjadi diriku sendiri. Aku tak pernah tau siapa aku dan bagaimana aseliku. Iya. Bahkan aku sendiri tak mengenal diriku.

Ketika aku pertama masuk bangku sekolah dasar, orang tuaku memasukkan aku kesekolah paling elite di daerah temapat tinggalku. Aku jelas tak merasa keberatan, karena aku berfikir ini terbaik untukku dan aku harus melakukannya. Namun, tidak dengan otak dan kemapuanku. Aku sama sekali tak mempunyai keahlian seperti anak kecil lainnya. Aku tak bisa menari, aku tak bisa bernyanyi, aku tak bisa melakukan apapun yang dilakukan anak kecil. Aku lebih suka berdiam di tempat yang sepi dan bertanya kepada Tuhan. 'Tuhan siapakah aku ini?'. Namun hingga lulus SMA, Tuhan tak pernah menjawab tanyaku. Sampai pada akhirnya aku harus masuk universitas yang disyaratkan ayah kepadaku.

"Ayah yakin kamu mampu masuk Universitas itu. Dan kamu harus masuk ke Universitas itu." Kata ayah sesaat setelah mengambil hasil kelulusanku.
Jujur saja, aku merasa terpukul dengan pernyataan Ayah. Ibuku hanya diam seolah dia tahu apa yang aku rasakan. Iya. Benar. Aku tak ingin masuk Universitas itu. Aku tak mampu. Namun, apadaya sebagai seorang anak yang telah diprotokol sejak kecil untuk melanjutkan pekerjaan ayahku menjadi seorang pengacara, aku bisa apa?. Membantah? tentu aku tak berani. Aku terlalu pengecut untuk memerdekakan diriku sendiri. 

Yang aku inginkan sebenarnya adalah masuk Universitas dengan jurusan bahasa dan bukan hukum. Aku tak suka dengan jurusan yang disyaratkan Ayah padaku. Otakku terlalu tumpul untuk menghafal semua hukum di negara ini. Aku tak suka. Aku lebih suka menulis, membuat puisi atau apapun yang bebas bukan yang terkait dengan aturan protokol semacam itu. Namun, aku tak membantah. Kuturuti saja kemauan Ayah. Aku mencoba masuk dan mengikuti test di Universitas tersebut. Aku pikir ini semata-mata untuk membalas budiku pada ayah dan ibuku.

Hingga hari pengumuman itu tiba. Jelas. AKU TIDAK LOLOS. Ayah marah besar padaku. Segala umpatan keluar dari mulutnya. Ibu hanya menangis dan memelukku. Namun aku tak tahan lagi. Aku berontak. Aku membantah. Aku tak mau di protokol lagi.

"Ayah cukup. !" Teriakku
Ayah hanya terdiam dan melihatku kaget.
"Aku tak mampu yah, aku tak mampu berada di jurusan yang Ayah inginkan. Aku ingin kuliah dengan jurusan yang aku mampu Yah ! Aku tak mau berada di jurusan itu! " Teriakku

Sejak kejadian itu Ayah mengusirku dari rumah. Ibu mencegahku. Namun, aku terlalu muak dan lebih baik aku memtuskan untuk mencari diriku sendiri di luar rumah ini. Berbulan-bulan setelah aku LOLOS untuk masuk Universitan dengan jurusan yang aku inginkan, tiba-tiba rasa rinduku pada kedua orang tua ku menjalar di setiap nadiku. Aku ingin kembali namun aku takut ayah masih marah padaku. 

Aku sudah berdiri di depan pintu pagar besar di sebuah perumahan elite. Iya. Ini dulu rumahku. Dulu tapi sekarang aku hanya menghuni rumah berpetak dengan ukuran tak ada satu perempat kamarku di rumah ini. Namun aku tak berani menekan bel. Aku hanya rindu. Rindu melihat ayah dan ibuku. Aku tak ingin kembali sebelum Ayah dan Ibuku melihat aku sukses tanpa protokol dari mereka. Tanpa sekolah hukum. Tanpa jadi seorang pengacara. Melihatku sukses dengan menjadi diriku sendiri.

12 Juli 2013
11 : 32 

Karena Kita Memang Beda


Bahkan tak ada yang pernah melarang cinta itu tumbuh pada siapa saja. Iya. Termasuk aku dan dia. Kami memang beda. Namun apa salahnya jika kami saling mencinta?. Perbedaan nampaknya masih menjadi hal paling 'absurd' di dunia ini. Termasuk yang terjadi pada keluargaku dan dia. 

Awalnya kami bertemu di sebuah tempat kursus. Aku mengenal dia sebagai sosok yang baik dan supel. Pandai membaur dan tidak canggung dalam memulai percakapan pada siapapun, termasuk padaku yang terhitung masih menjadi anak baru di situ. Dia bercerita banyak hal padaku. Tentang hidupnya, keluarganya dan termasuk tentang paham yang di anutnya. Iya. Dia seorang nasrani yang menyembah Tuhan selain Tuhan yang aku sembah. 

Aku tak begitu terganggu saat itu karena kita beda. Namun, setelah apa yang terjadi setelah hari itu. Aku menjadi terganggu dengan perbedaan kita. Aku berdebar saat dia menghampiriku, aku gugup. Aku berkeringat dingin saat dia menatap lembut mataku, aku gerogi. Aku JATUH CINTA padanya. Lambat-laun rasa itu semakin menjadi. Semakin tumbuh dan berkembang. Semakin membuat ku tak karuan saat tak kudengar kabar darinya. Membuatku tak bersemangat jika tak ditemani olehnya.

Segera ku tepis rasa yang mulai menjalar keseluruh darah di tubuhku. Aku mencoba menjaga jarak padanya. Tapi, dia tak pernah menyadari hal itu. Dia terlampau nyaman dengan keadaan kita. Sampai pada suatu ketika saat dia mengajakku main ke rumahnya dan ku iyakan ajakannya. Aku semakin takut pada langkahku sendiri.

Ornamen rumahnya sangat klasik, aku suka. Sederhana namun terkesan mewah dengan ornamen yunani eropa. Putih bersih. Aku memasuki pintu utama dan aku dipersilahkan duduk di ruang tamu yang sangat indh ornamen detailnya. Terdapat foto dan patung disana. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja dan dia atasnya terletak patung yang mungkin ini Tuhan yang dia sembah. Sangat religius. Aku suka. Dia keluar bersama seorang wanita yang sedikit tua namun tampak cantik sekali dengan gelungan rambutnya yang rapi. Iya. Dia ibunya. Sungguh aku tak menyangka bahwa wanita ini begitu feodalis. Dia tak menerima siapapun yang tidak termasuk dalam hitungannya dan patut bertemu dengannya. Namun, dia menerimaku dengan baik. aku suka. Dia bercerita tentang masa depan pria yang sekarang ada di hatiku ini. Dia bercerita betapa indahnya hidup bila dekat dengan Tuhan. Aku mulai tidak nyaman jika ada yang membawa-bawa Tuhan dalam percakapan. 

Esoknya. Pria itu menungguku di depan gerbang kampus ku. Menyapaku dan mengajakku untuk berangkat bersama ke tempat kursus. Di tengah perjalanan dia menghentikn langkahnya. Aku bingung dan aku bertanya kenapa dia menghentikan langkahnya. Dia tak menjawab. Aku tanya lagi berkali-kali dan dia akhirnya dengan tawa yang menggoda mengatakan sesuatu yang tak terduga, "maukah kau menjadi pendampingku?" . Ha? aku terhenyak. Kaget. Tapi kita beda? jawabku. 

Setelah aku menjawab dia berkata padaku "Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah perbedaan itu menarik? Apa yang salah dengan perbedaan? Kamu dengan agamamu dan Aku dengan agamaku. Atau kah itu menghambat cinta yang tumbuh? Apakah itu menghalangi surgamu dan surgaku?" .

Tak dapat ku iyakan sampai dia memutuskan untuk tak menungguku lagi dan menikah dengan wanita nasrani pilihan ibunya. Aku bahagia. Namun, aku bersedih atas cinta yang tak pernah bersatu dalam perbedaan .

11 Juli 2013
'Karena kita memang beda'


Wednesday, 10 July 2013

Ini KARMA !


Aku mengenalmu hanya sekilas. Aku tak suka menjalin hubungan yang serius denganmu. Ah~ entahlah, aku tak suka denganmu. Aku hanya mempermainkanmu. Aku hanya bermain cinta denganmu. Dalam hati aku tetap mencintai cinta pertama ku dulu. Sejak dia memustuskan untuk pergi dan menjauh dari kehidupanku, aku tak percaya lagi cinta, aku tak percaya lagi kasih sayang yang tulus.
Aku memang hanya bermain dan mengencani semua teman priaku. Aku tertawa puas saat aku bisa membuat mereka semua menteskan airmata saat aku memutuskan untuk pergi dari meraka semua. Iya, termasuk kamu. Dari awal aku memang tak tertarik padamu. Dari awal aku sudah tau bahwa kau hanya laki-laki polos yang masih percaya pada cinta pandangan pertama. Apa itu semua? Bullshit !
Aku memperlakukanmu seperti seolah kau pacarku. Padahal di belakangmu aku bermain api dengan saudaramu sendiri. Iya. Dia kakakmu. Namanya Rendy. Aku tertarik pada sosoknya yang simple. Aku suka gaya bicaranya yang intelek. Namun, kembali lagi. Aku tidak menggunakan hatiku. Aku hanya ingin main-main denganmu dan begitu juga dengan kakakmu.

Pertama yang aku lakukan padamu adalah membuat mu semakin tergila-gila padaku. Aku suka melihatmu kebingungan saat aku tak menjawab sms, bbm ataupun teleponmu. Haha ! aku sangat menyukai saat kamu memohon dengan bodohnya saat aku 'ngambek'. Aku suka sekali melihat ketololanmu itu. Hey ! bukan hanya aku yang bahagia melihatmu tolol seperti itu, masih ada orang lain. Iya. Kakakmu. hahaha !

Dengan begitu santai aku melenggang memasuki rumahmu. Aku tau jelas jika jam segitu kamu masih di kampus. Dan hanya ada kakakmu. Dan saat-saat seperti itulah yang aku sukai. Bermain cinta dengan kakamu, melakukan hal bodoh lainnya, dan membagi ceritaku tentangmu bersama kakakmu.

Namun, hari itu sesuatu terjadi. Kamu melihat aku bersama kakakmu sedang bercanda di dalam rumah dan hanya berdua. Kamu mulai marah, kamu mulai kesal, kamu mengepalkan tangan dan mendaratkan pukulanmu tepat di muka kakakmu di depanku. Aku tertawa. Aku hanya tertawa dalam hati melihat itu semua. Dasar laki-laki bodoh !. Dengan santainya aku meninggalakan kalian berdua. Aku memutuskanmu dan juga kakakmu. Aku mencari laki-laki lain.
Aku merasa menang setelah kejadian itu. Namun, Tuhan mungkin tak terima dengan perlakuanku. Sehingga aku di balas setimpal oleh-Nya. Cinta pertamaku datang kembali. Kami menjalin hubungan lagi. Segalanya tlah berubah pikirku. Aku akan bahagia dengannya. HAHA ! aku semakin tertawa. Namun, itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa bulan aku bangkit dan mengenal sekaligus menggunakan cinta tulusku. Dia bercumbu di depan mataku dengan temanku sendiri. Saat itu aku merasa di tampar oleh Tuhan atas perbuatanku. Tuhan, maafkan diri ini yang begitu kotor dalam menjalani hidup yang Engkau berikan.

10 Juli 2013
 'hasil curhatan teman'

Monday, 8 July 2013

Gagal? Bukan akhir segalanya



Gagal..
Mungkin memang bukan jalanku ini
Mungkin memang bukan hal yang baik jika aku disini
Mungkin juga bukan rejeki ku untuk ada disini

Tuhan..
Mungkin Engkau masih menuntut lebih atas usahaku
Mungkin Engkau mengajariku untuk lebih sabar
Mungkin Engkau memperpanjang masa tabahku

Aku..
Memang tak mampu membanggakanmu Ibu..
Tak membanggakanmu Bapak
Tapi, Percayalah..
Anakmu tak mungkin mengecewakanmu lagi

Kesekian kalinya aku jatuh
Maka akan ada kesekian kalinya juga aku bangkit
Kesekian kalinya aku gagal
Maka akan ada kesekian kalinya untukku sukses

Gagal yang kuterima sekarang
Gagal yang datang padaku saat ini
adalah awal dari sukses ku di masa depan :)
karena GAGAL bukan akhir dari segalanya

KEEP SPIRIT AND PRAY :)
09 Juli 2013
setelah pengumuman SBMPTN 

Saturday, 6 July 2013

Kamu


KAMU 



Awalnya aku hanya mengagumi dia lewat dunia maya. Aku senang sekali mengKEPO-i akunnya. Entah itu akun BBM, Facebook, Twitter dan akun-akun yang lain. Setiap bangun tidur sudah menjadi kebiasaanku untuk ngepo ke akunnya. Entah apa yang membuat aku begitu suka seperti itu. Rasa penasaran terhadapnya terus memuncak setiap harinya.

Rasanya ada yang aneh ketika dia tidak muncul d sosmed ataupun dia tak mengirim sms padaku. Aku ini kenapa? Apakah aku mengaguminya? Sepertinya iya. Jika ku artikan ini cinta, mungkin terlalu cepat. Jika kuartikan segala perhatiannya sebagai sayang, rasanya terlalu naif.

Bahagia sekali saat mendapat perhatian-perhatian kecilnya. Rasanya memang naif sekli, namun aku suka. Aku nyaman sekali dengannya. Sekarang tak penting buat aku untuk mengubah statusku dengannya menjadi "in relationship". Aku sudah nyaman seperti ini. Aku merasa bebas untuk memaksakan hatiku berjalan kemana saja.

Tapi kamu dan aku tak akan pernah tau kapan rasa itu akan tumbuh dan menjalar di hati kita berdua. Oh, bukan. Lebih tepatnya di hatiku (saja). Bahwa, nyatanya kamu tak pernah tau dan tak pernah peka bahwa aku begitu menikmati perhatian kecilmu. Kamu tak pernah tau bhawa aku selalu menunggu pesan singkat mu. Kamu tak pernah tau bahwa aku selalu berharap status kita menjadi "in relationship". Dan nyatanya itu hanya khayalanku saja.

Aku tahu persis siapa yang kau suka. Aku tahu persis wanita seperti apa yang menjadi impianmu. Aku hanyalah sebuah kertas kosong yang menunggu untuk kau tulisi, namun sampe kapanpun kau tak akan menulisi ku. Entah, aku ini kurang apa? Entah aku ini apakah terlalu berharap lebih. Atau apalah aku tak tahu. Yang jelas rasa penasaranku terhadapmu tak pernah habis. Aku merindukan itu saat kau tak memberi ku kabar. Aku merindukannya.

Namun, ini semakin menyiksaku. Semakin menjerat hatiku. Aku tak dapat bernafas karenamu. Aku tak dapat melalui fase ini. Aku capek. Tuhan, jika ini salah. Tegurlah aku.

07 JULI 2013
13:15    sesaat setelah merindukan KAMU


Tuesday, 2 July 2013

Aku, cuma ingin jadi terbaik untukmu.


Dia. Adalah sosok yang sangat aku kagumi. Aku mengagumi nya saat aku masih duduk di kelas 1 SMP. Kami memang berada satu sekolah saat itu. Dan tak kusangka ternyata kami berada satu sekolah lagi saat ini. Aku duduk di bangku kelas 2 SMA dan dia duduk di bangku kelas 3 SMA.

Bahagia sekali bisa satu sekolah dengannya. Aku tak peduli dia sekarang milik siapa. Dia sekarang sayang siapa. Yang jelas rasa dalam hatiku tetaplah miliknya. Aku mulai terbiasa memaknai langkahnya ketika berjalan di depan kelasku. Aku pun sempat GR saat dia mulai memberi perhatian kecil kepadaku. Contohnya saat ini. Chat BBM pun tak pernah putus kita lakoni.

Perhatiannya sangatlah berharga untukku. Walaupun aku jelas-jelas tau bahwa aku bukanlah satu-satunya wanita yang dia beri perhatian seperti itu. Namun aku tak mau ambil pusing dengan ini semua. Aku bahagia dengan posisiku sekarang. Siapa tahu bahwa kami berjodoh, itu yang selalu aku panjatkan di setiap doa dalam sujudku.

Pagi yang indah ini pun terjadi padaku. Dia. Dia yang aku kagumi telah berada di depan kelasku. Aku bahagia melihatnya. Namun, tetap. Kodrat ku sebagai wanita menuntutku untuk menunggu dan gak 'nyah-nyoh' terhadap lawan jenis. Aku mencoba sebiasa mungkin berjalan menuju kelasku.

Saat aku berjalan di depannya, dia menyapaku. Sontak. Dag dig dug jantungku berdegup. Hatiku berdesir. Keringat dingin keluar. Ini pertama kalinya dia memanggil namaku secara pribadi. Bertahun-tahun aku menunggu saat ini. Bertahun-tahun aku menutup hati hanya untuk membuktikan betapa setia ku kepada sosok yang ada di depanku saat ini.

Sejak kejadian itu kamu semakin dekat dan bahkan aku mengabaikan siapapun yang mencoba mendekatiku.  Aku tak tahu hubungan apa yang aku jalani sekarang ini. Bagiku tak penting status apa yang mengikat kami. Yang jelas, aku dan dia sangat menikmati hal ini.
Aku, cuma ingin  jadi yang terbaik untukmu.

2 Juli 2013
"ke-absurb an dalam cerita ini sangat jelas. Lagi BADMOOD"