Ini kesalahan terbesarku. Menyembunyikan sesuatu yang pada akhirnya kau tahu. Ini jalan yang sulit untukku. Jika harus meninggalkanmu, aku merasa tak mampu. Namun, jika aku harus bertahan denganmu, aku takut semakin menyakitimu. Aku tahu, bahwa aku tak lebih menenangkan dari alkohol yang (aku percaya) saat ini sedang kau tenggak perlahan.
Ya jelas aku tak menenangkan. Toh, ini semua karenaku. Jika harus berhenti di sini, aku tak pernah tahu akan jadi apa aku nanti tanpamu, tanpa pelukmu, tanpa gandengan tanganmu. Jika harus berhenti di sini aku mersa tak sanggup jika harus membopong segala impian di masa depan yang telah aku susun rapi bersamamu.
Aku tahu, kamu pasti akan menganggap semua omonganku adalah hanya omong kosong semata. Tak dapat dipercaya. Jika aku di posisimu, aku akan seperti itu. Mungkin lebih dari apa yang kau lakukan padaku sekarang. Bukan hanya aku, mungkin kau sekarang juga sedang berusaha menempatkan dan menenangkan hati pada satu sudut yang tepat. Tanpa tedeng aling-aling sesungguhnya aku hanya ingin bersamamu saat ini. Aku ingin melihat bagaimana aku bisa menyakiti seseorang sebaik kamu. Bagaimana aku dengan bodohnya bisa melakukan hal sejahat itu kepada kamu; tercintaku.
Maaf. Jika tak mampu kutebus dengan maaf. Maka ijinkanlah aku membasuh perlahan luka yang aku gores dengan tajam. Maka setelah luka itu terlihat lebih baik, maka ijinkanlah aku merawatnya hingga sembuh. Akan kujaga dan tak akan kugores lagi. Aku berjanji.
Jika harus berakhir di sini. Aku ingin sedikit senyum tulusmu mewarnai langkahku ke depan.Aku ingin berpeluk denganmu untuk menjadi kekuatanku menopang mimpi bersama. Serta menikmati secuil bibirmu untuk menjadi ketenangan yang paling damai.
Surabaya, 9 Juni 2014
"Jika harus berakhir di sini
aku tak ingin sendiri
melangkah menuju masa depan
dengan kau yang aku kasihi"
No comments:
Post a Comment