Tuesday, 2 July 2013

Untitled

Aku tahu kamu orang yang sangat tidak peduli dengan apapun kecuali sesuatu yang kamu suka. Egois !. Pikirku, pada awalnya aku mampu merubahmu menjadi sosok yang lebih friendly. Namun semuanya kau hempaskan dalam sekejap. Semua angan-angan dan usahaku untuk merubahmu kau bantah dengan kalimat keras yang memekikkan telingaku "Aku tak mau jadi siapapun, cuk!". Sontak, aku kaget dengan pernyataan mu itu. Kenapa kau begitu tega melontarkan kalimat itu kepadaku yang jelas-jelas masih menjadi pacarmu.

Setelah kejadian itu, aku 'mogok' untuk bertemu, menjawab sms ataupun telfonmu. Aku sudah sangat malu dengan perlakuanmu. Aku tahu kita berbeda. Aku tahu kau keras. Aku tahu kau cuek. Aku tahu aku ini cerewet dan terlalu berlebihan terhadapmu. Namun, pantaskah kata-kata seperti itu keluar dari mulut orang yang sangat aku cintai. 

Suatu sore. Kau berhenti didepan sepeda motor yang sedang aku kendarai di sebuah jalan menuju rumahku. Aku sudah sangat enggan bertemu denganmu. Aku marah. Kamu tetap mematung di depanku. Dan aku juga masih diam di atas kuda besi berwarna pink ku itu. Sampai pada akhirnya, kau berkata "Maafkan aku, aku merindukanmu" dengan gayamu yang malu-malu namun tetap cool. Apa mau dikata, aku pun merasakan hala yang sama. Setelah beberapa hari au tak jumpa dan mendengar kabarmu, aku merasakan rindu yang sama. Namun, aku malu untuk mengakuinya. Aku tetap berdiam. Kamu mengahmpiriku dan memegang tanganku. Aku dengan suka rela kau peluk dengan erat. Dan kembali.. hatiku berdesir ketika kedua lengan mu melingkar dibadanku dan memelukku. Hangat. 

Kamu memang selalu bisa menghangatkan hatiku yang dingin. Dan juga kamu bisa meredam segala amrahku hanya dengan pelukanmu. Kamu selalu begini. Selalu berhasil mencuri rasaku kembali. Namun, ketika aku mulai bahagia kembali seperti saat ini. Kamu juga selalu berubah menjadi dingin kembali.

Pertengkaran hebat ini contohnya. Ya. Aku sebenarnya tak begitu paham dengan masalah ini. Kamu begitu marah denganku. Aku bingung, kamu kenapa. Aku mencoba mengalah dan bertanya baik-baik. Namun kamu kembali mengeluarkan  kata-kata yang sangat membuat hatiku terluka.
"Mau jadi wanita apa kamu? kamu ini punyaku. Bisa-bisanya kamu membalas BBM cowok itu! Mau jadi apa kamu cuk !" . Aku masih bingung, BBM? Cowok?. Kucoba menjelaskan padanya bahwa BBM itu sepupuku dan dia salah paham dengan ini semua. Namun, begitulah dia. Tak mau mendengarkan apa yang orang lain katakan jika dia telah mengejudge orang lain itu salah di matanya.
Aku tak sadar dengan apa yang aku ucapkan saat itu. "AKU MINTA KITA PUTUS !" itu yang aku ucapkan. Entah, ini dari hati atau hanya emosi sesaat. Aku pun tak tau. Yang jelas saat keputusanku itu, kulihat dia semakin tak karuan. Semakin nakal. Semakin menjadi-jadi.
Dan aku, merasa lebih menyesal karena secara tidak langsung akulah penyebabnya dia menjadi seperti itu.


2 Juli 2013
"Untukmu  yang tak peka dengan keadaan"

No comments:

Post a Comment