Bahkan tak ada yang pernah melarang cinta itu tumbuh pada siapa saja. Iya. Termasuk aku dan dia. Kami memang beda. Namun apa salahnya jika kami saling mencinta?. Perbedaan nampaknya masih menjadi hal paling 'absurd' di dunia ini. Termasuk yang terjadi pada keluargaku dan dia.
Awalnya kami bertemu di sebuah tempat kursus. Aku mengenal dia sebagai sosok yang baik dan supel. Pandai membaur dan tidak canggung dalam memulai percakapan pada siapapun, termasuk padaku yang terhitung masih menjadi anak baru di situ. Dia bercerita banyak hal padaku. Tentang hidupnya, keluarganya dan termasuk tentang paham yang di anutnya. Iya. Dia seorang nasrani yang menyembah Tuhan selain Tuhan yang aku sembah.
Aku tak begitu terganggu saat itu karena kita beda. Namun, setelah apa yang terjadi setelah hari itu. Aku menjadi terganggu dengan perbedaan kita. Aku berdebar saat dia menghampiriku, aku gugup. Aku berkeringat dingin saat dia menatap lembut mataku, aku gerogi. Aku JATUH CINTA padanya. Lambat-laun rasa itu semakin menjadi. Semakin tumbuh dan berkembang. Semakin membuat ku tak karuan saat tak kudengar kabar darinya. Membuatku tak bersemangat jika tak ditemani olehnya.
Segera ku tepis rasa yang mulai menjalar keseluruh darah di tubuhku. Aku mencoba menjaga jarak padanya. Tapi, dia tak pernah menyadari hal itu. Dia terlampau nyaman dengan keadaan kita. Sampai pada suatu ketika saat dia mengajakku main ke rumahnya dan ku iyakan ajakannya. Aku semakin takut pada langkahku sendiri.
Ornamen rumahnya sangat klasik, aku suka. Sederhana namun terkesan mewah dengan ornamen yunani eropa. Putih bersih. Aku memasuki pintu utama dan aku dipersilahkan duduk di ruang tamu yang sangat indh ornamen detailnya. Terdapat foto dan patung disana. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja dan dia atasnya terletak patung yang mungkin ini Tuhan yang dia sembah. Sangat religius. Aku suka. Dia keluar bersama seorang wanita yang sedikit tua namun tampak cantik sekali dengan gelungan rambutnya yang rapi. Iya. Dia ibunya. Sungguh aku tak menyangka bahwa wanita ini begitu feodalis. Dia tak menerima siapapun yang tidak termasuk dalam hitungannya dan patut bertemu dengannya. Namun, dia menerimaku dengan baik. aku suka. Dia bercerita tentang masa depan pria yang sekarang ada di hatiku ini. Dia bercerita betapa indahnya hidup bila dekat dengan Tuhan. Aku mulai tidak nyaman jika ada yang membawa-bawa Tuhan dalam percakapan.
Esoknya. Pria itu menungguku di depan gerbang kampus ku. Menyapaku dan mengajakku untuk berangkat bersama ke tempat kursus. Di tengah perjalanan dia menghentikn langkahnya. Aku bingung dan aku bertanya kenapa dia menghentikan langkahnya. Dia tak menjawab. Aku tanya lagi berkali-kali dan dia akhirnya dengan tawa yang menggoda mengatakan sesuatu yang tak terduga, "maukah kau menjadi pendampingku?" . Ha? aku terhenyak. Kaget. Tapi kita beda? jawabku.
Setelah aku menjawab dia berkata padaku "Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah perbedaan itu menarik? Apa yang salah dengan perbedaan? Kamu dengan agamamu dan Aku dengan agamaku. Atau kah itu menghambat cinta yang tumbuh? Apakah itu menghalangi surgamu dan surgaku?" .
Tak dapat ku iyakan sampai dia memutuskan untuk tak menungguku lagi dan menikah dengan wanita nasrani pilihan ibunya. Aku bahagia. Namun, aku bersedih atas cinta yang tak pernah bersatu dalam perbedaan .
11 Juli 2013
'Karena kita memang beda'
hehehehe
ReplyDeleteapik og ??!!
lanjutkan ??!!
wakaka :D
ReplyDeletesing setia moco blog ku meg mas yan eg :3
yang lain kemana?
mksih mas yayan ({})