Tuesday, 14 October 2014

Retaknya Cermin Itu


begini retaknya !

Kamu tentu tahu bagaimana mudahnya memecahkan cermin. Dipukul; ditendang; dilempar dengan batu; dipukul dengan kayu dan sebagainya. 

Berbeda dengan cerminku. Aku menjaganya, dengan sangat hati-hati. Aku membingkainya, seperti potret diriku waktu masih suci (bayi). Aku senantiasa memberishkannya, seperti aku ketika mandi dan bersuci. Segalanya kulalkukan dengan hati. Segalanya kulakukan dengan ikhlas diri. Tentu tanpa paksaan. 

Aku sengaja meletakkannya dekat dengan potret diri kita. Foto kita bersama, ketika kita berbagi senja berdua. Senyummu dan senyumku bercumbu jadi satu. Kebahagiaan tergambar jelas dibalik tatapan mata kita dalam potret itu. 

Tentu kau juga tahu bagaimana proses pemuain pada kaca, bukan?. Iya, sekarang cerminku mengalaminya.  Aku kebingungan. Harus kuapakan karena toh ini proses alam. Sungguh aku tak ingin menggantinya. Sedikitpun. Secuilpun. Bagaimanapun sudah lama aku menantikan dan akhirnya diberi kesempatan untuk menjaga cermin ini. 

Kali ini hampir dari separuh dari cermin ini retak. Padahal aku telah berusaha menjaganya. Merekatkan banyak selotip pada setiap bagiannya yang retak. Hingga kini seluruh bagian itu akan tertutup banyak selotip. Aku takut. Bagaimana jika cermin ini sudah tak bisa menampilkan wajahku. Bagaimana jika cermin ini berganti dengan yang baru?. Aku sungguh tak menginginkan hal ini terjadi. 

Karena aku sangat menyayangi cermin itu. Berapa banyak bagian pun yang retak, aku tetap tak ingin menggantinya. 

Surabaya, 14 Oktober 2014

Tuesday, 30 September 2014

Berpagutan Dengan Malam


Kali ini apa yang akan kau cumbui
Kali ini dingin terhpus gigil
Kali ini aku bersembunyi di bawah sunyi
Tanpa kata; dengan makna

Kau mulai memagut
Lenganku menggelayut
Tubuhku kau timpuh
Beradu peluh

Kakiku mengepang di tengah kakimu
Tanganku melingkar di leher jenjangmu
 Tubuhku goyah; bergejolak dalam lantunan lenguhku
Kau merengkuh

Mencoba kembali menemui keesokannya
Mencoba kembali bercumbu pada dinginmu
Oh... Malam, kau begitu dahsyat
Menghadirkan kisah

Surabaya, 30 September 2014

Thursday, 25 September 2014

Sepuluh bulan.

Seperti apa kau menafsir sepi?
Seperti dingin yang hilang dalam gigil
Seperti apa kau menafsir mimpi?
Seperti tawa yang ada ketika kau bangun pagi

Dan malam hanya bersetubuh dengan hening
Seperti lilin-lilin yang leleh dalam batang
Dan itu ketika kau belum bersamaku
Ketika aku tanpa hadirmu

Sepuluh bulan

Kini bagaimana kau menafsir rindu
Mungkin seperti empedu beraroma madu
Beradu,
Kalah
Dan lelah
Lelah; saat gelisah dalam rebah

Sepuluh bulan itu

Kini bagaimana kau menaruhkan hidupmu
Ketika aku telah terbiasa dengan hadirmu
Ketika aku tak mampu melepas gandengan tanganmu
Aku telah satu denganmu

Sepuluh bulan itu, kini,nanti dan selamanya
Berjanjilah,tak akan melepas gandengan tanganku

Surabaya, 26 September 2014
"Sepuluh bulan itu"







Wednesday, 24 September 2014

SAYA JENGAH !

Ini semester terberat selama saya kuliah. Entah, karena apa dan siapa. Bukan tentang hilangnya penyemangat. Bukan pula tentang uang kuliah yang harus saya bayar tiap semesternya. Ini tentang metamorfosa mental yang biasa saya gadang-gadangkan dan saya tulis dalam tulisan saya sebelumnya.

Ini juga hal yang cukup membingungkan dalam perjalanan akademik saya. Bukan tentang IPK yang turun. Bukan tentang kurang aktifnya saya di kelas. Bukan. Sekali lagi ini tentang metamorfosa mental yang sedang saya alami.

Saya menyerah. Bukan pula karena saya terlalu payah. Namun saya sudah jengah. Saya lelah. Harus berjalan pada satu garis lurus yang ditentukan oleh yang maha "pengurus". Saya ingin jalan saya sendiri. Sudah saya coba untuk mengintrospeksi diri saya sendiri. Mendiamkan diri pada kungkungan emosi yang membebani. 

Ternyata tetap salah juga. Kesini salah, kesana juga salah. Berhenti salah, berjalan lebih salah. Tersenyum aku jengah, cemberut jadi masalah. Apalah, entahlah. SAYA JENGAH !

Surabaya, 25 September 2014
Sedang dalam proses metamorfosa mental

Monday, 22 September 2014

Halo Kamar Mandi

Sebagai manusia tidak banyak yang saya tahu. Iya. Ini salah satunya, saya tidak mengetahui apa yang saya inginkan sekarang. Saya bukan orang yang pandai berterus terang kepada siapapun. Saya bukan orang yang terbuka dengan keadaan saya sebenarnya. Bagaimana tidak, ketika saya ingin sekali terbuka dengan orang yang menurut saya bisa dipercaya. Saya justru mengatahui busuknya. 
 
Seperti hari ini, saya enggan sekali membuka mulut. Lebih banyak diam. Memilih mendengarkan pembicaraan. Saya mungkin telah kehilangan sebagian dari sejatinya saya. Ini mungkin yang dinamakan metamorfosa mental. Sungguh, rasanya tidak pernah seperti ini saya sebelumnya.

Segala hal yang membingungkan telah menimpa saya. Mengoyak dan membabat habis pikran saya. Ini belum pernah terjadi dengan saya (sebelumnya). Saya merasa jatuh tersungkur lalu bangkit lagi, jatuh lagi dan bangkit lagi. Begitu seterusnya. Saya pusing.

Belum lagi tentang masalah hidung saya. Yang akhir-akhir ini sering sekali mengeluarkan darah yang entah darimana dan apa penyebabnya. Dokter bilang saya hanya kelelahan. Namun lelah yang bagimana yang membuat saya amat sangat ringkih seperti ini. Bukankah jika manusia yang lelah, istirahatlah obatnya?. Ini tidak demikian dengan hidung saya. Entahlah.

Darah itu keluar lagi siang ini. Tepat ketika kaki kanan saya menginjak ubin di kamar kos saya. Segera saya berlalri menuju kamar mandi yang tepat berada di depan saya. Segera saya tundukkan kepala. Mencoba 'meladeni' cairan berwarna merah kehitaman tersebut. Sungguh, airmata mana lagi yang harus saya keluarkan untuk menangisi ini. Sementara disini, saya hanya sendiri. Saya membutuhkan pundak atau setidaknya lengan untuk membantu saya mengusap cairan itu.
 
Bukan hanya sekali saya menyapa kamar mandi ini. Ini sudah ketiga kalinya. Saya lelah. Saya selalu mengucapkan "Halo Kamar Mandi" dalam hati ketika saya menyinggahkan kaki saya kembali kesini lagi dalam rentan waktu yang tidak cukup lama.
 
Tuhan, saya lelah. Bukan maksud saya ingin menyerah. Namun ini semua dikarenakan saya terlalu payah. Iya; saya tak mampu menggubah. 
 
Surabaya, 22 September 2014
"Halo Kamar Mandi
"

Saturday, 20 September 2014

Menciumi Senja

Genggaman itu. Abadi sepanjang waktu.
Sudah pernah terjadi sebelumnya. Menciumi senja berdua. Denganmu saja. Merengkuh asa dalam balutan nirwana yang sedang menggelora dalam dua jiwa. Sore ini terjadi lagi. Aku menemukan kehangatannya lagi. Bukan tentang bara api yang membakar. Bukan tentang es batu yang membekukan. Tapi tentang berbagi senja yang menjingga. Berdua.

Kamu datang tanpa memberitahuku. Kamu datang dengan muka menggemaskan. Rasanya ingin sekali kupeluk segera. Namun fikiranku masih 'waras'. Aku sadar ini bukan tempatnya.Ini sudahpukul setengah 5 sore. Kita masih duduk berhadapan di bangku depan kosku. 

"Ke danau yuk". katamu tiba-tiba.

Aku mengangguk. Langsung kusetujui pintamu. Aku bergegas mengganti pakaianku. Lebih rapi dan pantas sekarang. Kita menendari sepeda motor menuju ke sebuah tempat yang biasa saja sebenarnya. Bahkan tak ada yang istimewa dari tempat itu. Iya; jika aku mendatanginya sendiri. Tanpamu. Namun ini berbeda. Tempat itu terasa amat sangat megah dengan segala hal yang mengitarinya. Segala hal yang berada disana. Namun, bukan semua hal itu yang membuatku menyukai tempat ini. Ini semua karena kau. Iya, kau memang selalu menunjukkan betap indahnya bersyukur atas kenikmatan apapun yang telah diberikan oleh Tuhan pada tempat manapun. Tak terkecuali danau ini.

Menunggu senja bukan hal aneh lagi bagi kau dan aku. Bagi kita inilah satu-satunya hal yang membuat kita rela berada di tempat itu lebih lama.

"Lihat! Bagus ya. Sayangnya kita tidak dapat memotretnya sekarang" Kataku sembari menunjuk bundaran kuning keoranyean yang indah itu. Dengan mengamit sebelah lenganmu. Kau berikan belaian lembut di kepalaku.
"Mungkin lain kali bisa kita mengambil potretnya, sayang" Katamu menenangkan.

Aku tersenyum kecil padamu. Bergelut manja di sebelah lenganmu. Kita berjalan menyusuri tempat itu. Mengumbar tawa. Melalui canda kuhaturkan segenap rasa nyaman dan amanku padamu. Setelah kita merasa lelah sembari senja juga lelah dan tenggelam. Aku dan kau pun memilih bersandar. Duduk di tepian. Saling menggenggam. Saling beradu pandang.

"Aku mencintaimu" Katamu seperti biasanya. Genggamanku masih belum terlepas.
"Aku juga sangat mencintaimu." Jawabku dengan semburat malu.

Lagi-lagi kau mengusap lembut kepalaku. Entah kenapa, aku merasa sangat nyaman ketika tanganmu bergerak lembut seperti itu. Dan lagi. Aku menggenggam erat tanganmu. Semakin erat. Semakin dekat. Aku mendapatkannya lagi. Beradu tatap tak lupa beradu hasrat. Nikmat.Hangat senja sore tadi.

Surabaya, 21 September 2014
Mneciumi Senja.

Thursday, 18 September 2014

Bukan. Mentalku sedang bermetamorfosa.

Ini tentang rasa, asa dan apapun yang menggerahkan. Bukan. Bukan tentang masalah percintaanku dengan kekasihku. Bukan pula dengan masalah cinta kepada orang tuaku. Segalanya baik-baik saja. Iya; baik-baik saja.

Tampak sekali pagi itu. Aku mengenakan rok hitam dan kaos hijau. Iya. Kalian tentu tahu bahwa aku akan berangkat ke kampus tercintaku. Pernah tidak kalian merasakan ada yang janggal pada aku?. Ah mungkin tidak. Aku hanya kaum minoritas. Aku kaum tak tercium sekalipun berliter minyak wangi yang aku pakai. Entahlah. Pagi ini aku tak seceria biasanya. Aku tak seheboh seperti biasa juga. Aku tak pernah tahu apa yang menyebabkan aku begini. Sungguh. Aku merasa kecil. Aku merasa malu. Aku merasa tak berarti apapun.

Nyaliku menciut. Senyumku tersangkut pada awang-awang keraguan. Suaraku memelan, lirih. Aku malas sekali berpura-pura. Aku juga malas sekali untuk menyunggingkan senyumku pada siapapun tak terkecuali. Sedikitpun. 

Kalian pasti ingat betapa aku sangat berbeda hari itu. Aku tak secerah baju yang aku pakai. Aku tak semeriah apa yang aku bawa dalam tasku. Bolpoin. Pensil. Penggaris. Dan alat-alat menulis lainnya. Aku tak seberwarna pensil waran yang kemana saja aku bawa. Ini bukan aku, sungguh. Ini bukan diriku. Aku kehilangan senyumku. Aku merasa sedih. Ingin menangis. Namun tetap kuperlihatkan wajah 'baik-baik saja' ku pada siapapun yang ada didekatku dan menyapaku. Tak terkecuali, kalian semua.

Sungguh, jika saja aku boleh berteriak maka aku akan berteriak sebisaku. Jika saja bunyi kelas musik tak semeriah itu maka suaraku yang akan menjadi gantinya. Hilang. Nyatanya segalanya berubah menjadi senyap. Aku diam. Merasa tersisihkan. Mungkin karena aku sendiri. Entahlah. Betapa aku lebih memilih begini. Menutupi segala sedihku. Melihat kebahagiaan yang (mungkin) saja aku bisa raih sekarang. Namun aku memilih menyisihkannya. Aku memilih tak menghiraukannya. Aku memilih diam. Mentalku tergoyahkan. Aku ingin pergi. Entah pergi kemanapun yang aku suka. Tanpa keterpura-puraan, tanpa keterpaksaan, tanpa apapun yang membebani hatiku dan juga rasaku.

Aku ...
Sudah tak kudapat lagi kata yang tepat untuk melukiskan perasaanku. Aku ingin menangis sekencangku. Aku tak dapat lagi tersenyum. Segalanya menyesakkan. Terkoyak dalam bentuk seperti apa mentalku saat ini. Entah. Perih. 

Ibu ...
Aku ingin menemuimu. Memohon perlindunganmu. Meminta pelukmu. Menghempaskan segala tangisku pada pundak lembutmu. Dalam hal apapun ternyata hanya kau yang mengertiku. Aku ingin bertemu,bu. Anakmu tak sedang baik-baik saja. Aku merasa sendirian. Jika saja kekasihku tak disini, aku tak akan sekuat ini, bu. 

Sudah cukup segalanya kucurahkan. Karena kalian tahu tak akan ada kata yang tepat untuk membuatku lega. Terimakasih segalanya. Ini suatu pelajaran.

Surabaya, 18 September 2014
'melegakan hati pada tempat yang tersembunyi'

Sunday, 14 September 2014

Berbagi Senja


Sore Itu.

Iya. Hari ini adalah hari minggu. Dalam rentang waktu 3 bulan yang lalu aku tak pernah bahagia dengan hari minggu. Ya. Tentu kau tahu, Karena minggu sore ini aku bersamamu. Iya; kamu kekasihku. 

Ini masih pukul 14.56 wib. Kita mempunyai janji pada pukul 15.00 wib. Namun, kau sudah berada di depan kosku pada sebelum jam yang kita sepakati. Senyumku mengenbang lebar tanpa perintah dari siapapun. Kau pun begitu. Dalam hal berbagi suka kita sudah biasa. Berbagi duka pun kita ahlinya. Aku menaiki motor tepat berada di belakang punggungmu. Sore itu sangat panas namun terasa dingin di belakangmu. Rasanya ingin sekali memelukmu dalam jarak sedekat ini. Namun, aku masih saja malu-malu dan memilih diam membisu. 

Sudah sampai. Kita memilih danau untuk mengambil gambar kita berdua. Aku senang sekali melihatmu melalui celah kameraku. Aku menyukai lengkungan senyum di wajah tegasmu. Aku menikmati setiap inchi mukamu dalam celah kameraku.

Mulai dari sore panas yang membakar tubuh dari celah kerudungku. Hingga senja yang menguning di balik celah gedung tinggi dekat danau. Aku menyukainya. Terlampau mencintainya. Aku tetap ingin berbagi senja. Denganmu saja.

Lidah Wetan.
15/09/2014

Tuesday, 2 September 2014

Tak Ada Mimpi Yang Mengkikis


"Kau luluhkan hati yang beku, Kau sembuhkan hati terluka. Ikhlas kau lakukan untukku"

Itu adalah beberapa kata yang saya ingat ketika saya mendengarkan lagu yang dibawakan oleh penyanyi pendatang baru Maudy Ayunda ini. Awalnya memang saya tak begitu menggubris tentang lirik lagu dan nada dalam nyanyian tersebut. Namun beberapa kata itu tadi tiba-tiba masuk dan saya ingat hingga sampai pada tujuan saya. Iya, pagi ini saya sedang berjalan menuju sebuah tempat yang (dulu) ketika saya kecil saya sering bermain disini. Desa memang tempatnya, namun tempat ini jauh lebih indah dari apapun yang ada di bumi ini (yang pernah saya lihat).

Sebuah gubuk kecil di tengah hamparan sawah yang mulai menguning karena ini memang sudah masuk pada musim panen sungguh pemnadangan yang menyejukkan mata. Jauh meninggalkan segala kegiatan yang begitu menguras tenaga. Jauh dari segala hal yang membuat penat ketika terhalang macet di tengah kota. Dan berbagai hal membosankan lainnya yang saya lakukan setiap hari.

Jalan yang bergelombang di penuhi dengan bebatuan cadas yang sungguh jika ban mobil ini bisa berteriak maka ia akan berteriak dengan sekat tenaganya. Namun bagiku ini sungguh sangat mengasyikkan. Segala hal yang ada di desa memang mengesankan. 

Tiba pula aku pada sebuah bangunan (rumah) tua yang di pinggirnya masih terdapat beberapa bungan dan kentongan. Begitu tidak asing bagi saya ketika mengetuk pintu coklat rumah ini. Beberapa menit saya menunggu. Terdengan suara langkah kaki dengan terburu-buru membukakan pintu. Wanita tua yang masih kelihatan muda menyambut saya. Saya perkirakan wanita ini berumur sekitar 59 tahunan. Wanita ini menatap saya lekat, mungkin mencoba mengingat siapa saya. Saya mendekatkan wajah saya untuk mencium tangannya.

"Ibu, masih ingat saya?" semabri tersenyum padanya.
"Iya nduk, ibu ingat. Bunga kan? sekarang sudah dewasa ya. Ada apa nduk kesini?" tanyanya memburu.
"Endak buk, saya hanya kangen dengan tempat ini. Saya rindu dengan sampean dan bapak. Bapak mana?" Tanya saya.
"Ayo masuk dulu nduk" pinta ibu dengan sedikit perubahan wajahnya.

Saya mencoba mengingat isi rumah ini. Tak ada yang berubah. Yang lebih membuat saya terenyuh adalah masih ada gambar anak perempuan kecil yang mirip sekali dengan saya dan saya yakin jika itu memang saya. Begitu polos dengan foto tanpa warna itu. Saya menjadi teringat segala kenangan di sini. Pertama saya merajut mimpi. Pertama saya mengerti bagaimana mensyukuri hidup ini. Dan pertama saya mempunyai angan untuk kembali ke desa ini. Saya masih ingat dengan mimpi yang saya tulis pada sudut tembok rumah ini. Saya mencoba mencarinya. Saya menemukannya. Iya, pada susudt ruang tamu. Saya menuliskan "Saya ingin kembali ke desa ini saat usia sayan 19 tahun". Dan sekarang saya mampu untuk merealisasikannya. 

Lihat, di sini tak ada doa dan harapan yang mengkikis karena pertumbuhan (usia).


Lidah Wetan, 2 September 2014


Monday, 25 August 2014

Hold On


Selalu ada yang berbeda di pagi tanggal 26. Selalu ada harapan baru. Selalu merapal doa agar kian bersatu. Iya; denganmu. 

Sembilan bulan yang lalu. Tanggal 26 hari itu. Bulan November telah jadi milikku. Ingatkah ketika itu kau duduk di sebelahku. Mengajakku untuk saling menelanjangi perasaan satu dengan yang lainnya. Aku berdebar waktu itu. Jantung tak karuan. Aku rasa kau pun begitu. Aku mengucapkan selamat datang kepadamu pencuri hatiku. Lelaki sederhana dan pandai sekali mengundang tawa. Ada ruang dalam diriku yang dengan senang hati bersedia menerimamu. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu mengertimu nanti. Iya, ketika kelak kau telah menjadi milikku. Saat itu tak tau harus kupasang mimik muka yang seperti apa lagi padamu. Aku gugup. Lidahku kelu. Jantungku berdegup.

Kau tentu tahu bagaimana aku waktu itu. Aku pun sangat tahu bagaiman kau waktu itu. Dengan mukamu yang meurutku kau juga gugup berhadapan denganku. Kau mulai berbicara apa maksudmu mengajakku duduk di sebelahmu. Iya, sejak saat itu kau telah mejadi milikku dan aku pun menjadi milikmu.

"Selamat Datang cinta, jadikan aku tempat terakhirmu berlabuh. Jadikan aku tempatmu mengungkapkan bahagia dan duka."

Iya, begitulah cara hatiku menyapa hatimu yang sekarang telah menjadi satu denganku. Aku berjanji akan senatiasa bersama dalam keadaan apapun. Bersamamu.

Selamat mengulang kembali tanggal 26.
Tetaplah menggandeng tanganku untuk tangal 26 berikutnya dan seterusnya.

Kediri. 26/08/2014
Persembahan Untukmu; lelaki terhebatku.

Monday, 18 August 2014

Rindu Sendu


Ini tentang rinduku yang semakin hari menumpuk sendu.

Hallo, apa kabar Tuan?
Hallo, apakah rindumu masih membaik?
Hallo, Tuan... Kau dengar aku?
Halo... Haloo.. haloooooooo?

Tut.. tut... tut..

Sambungannya terputus. 

Ku usap keringat yang menetes pada pelipis kiriku. Jangan berfikir aku baru saja berlari atau olahraga. Bukan. Aku baru saja bertarung dengan obat bius dan para kurcaci berbaju hijau. Selang infus dan sprei yang berantakan karena penolakanku untuk dicengkeram para tangan kurcaci itu. Aku berusaha lari, tidak ingin pemasungan ini terjadi.

Aku berhasil berlari. Menjauh dari mereka semua. Bersembunyi di balik tembok besar sebuah koridor dan di samping kamar bertuliskan Bougenvil 03. Aku lemas. Rasanya lututku sudah tak mampu lagi menopang tubuh besarku. Aku ambruk. Aku kais telepon genggam yang ada pada saku baju khas bau obat ini. Dengan mata yang selebar gambaran garis ini, aku mencoba menghubungi seseorang. Iya; seseorang yang mungkin dan aku rasa dia sangat mau untuk membawaku bersenang-senang dalam deras derai hujan. Aku menekan sebuah nomor bertuliskan nama 'Kekasihku'. Tersambung. Tawaku mengembang lebar. 

Panggilan pertama tak mendapat respon darinya.

Kucoba dengan menekan kembali nomor itu. Panggilan kedua mengalami pengacuhan.

Masih saja aku membandel dengan menekan panggilan ketiga. Panggilan ketiga mengalami pengabaian.

Berkali kali aku mencoba. Sudah 20 kali aku menekan nomor yang sama. Rasanya ingin menagis sekencang-kencangnya. Tapi, aku takut para kurcaci pembawa obat dan jarum suntik itu mengetahui keberadaanku. Kucoba berdiri mencari tempat sembunyi yang lebih menepi. Aku berjalan sempoyongan.

Bruuuuaaaaaaakkkkkkk !

Aku menabrak seseorang. Tidak! Ini pasti para kurcaci itu. Tamatlah riwayatku. Aku berlari semampuku. Orang itu mengejarku. Kali ini dia sendiri. Tidak bersama pasukannya. Aku berhenti. Aku mencoba menyerah. Sudah. Aku pasrah.

Orang itu memelukku dari belakang. Tuhan, sungguh Engkau Maha Baik. Ternyata dia kekasihku. Digendongnya aku menuju entah tempat apa ini. Aku hanya melihat sebuah ruang bersudut empat yang hanya diisi dengan tempat tidur berwarna putih bersih dan sebuah meja kecil beserta sebuah pigora berisi potret kami.

"Kamu akan aman di sini" Katanya sembari merebahkan tubuhku di pembaringan berbau harum ini.

Senyumku kembali mengembang. Aku memeluknya. Dibenamkan pula kepalaku di dadanya. Aku merasa sungguh sangat aman dan nyaman. Aku tenang. Sungguh lelaki ini begitu tahu bagaimana memperlakukan aku. Diciumnya keningku. Kembali kerekatkan tubuhku pada sebuah pelukan terhangat yang pertama aku rasakan. Lelakiku.

Tiba-tiba seseorang menarikku. Memaksaku untuk melepas pelukannya. Aku memeberontak. Orang itu tetap saja menarikku. Dan berkata: 

"Adek! Sudah shubuh, ayo sholat dulu"

Oh. Ternyata aku hanya bermimpi. Itu suara Ibuku.

Iya, beginilah aku. Rinduku sudah teramat tebal. Sehingga aku sering kehilangan nyenyakku karena waktu tidurpun aku tetap merindumu.

Kediri, 19 Agustus 2014


Saturday, 16 August 2014

Rindu

Rindu ini merongrong lagi
Bergelayut manja dalam sepi
Sudah pula kupasang topeng berhias belati
Oh... Rindu tenanglah sedikit, mengerti?

Aku bukan pula anganku
Merajut asa dalam hias lembayung yang merona
Mengapa belum jua kutemui temu yang nyata?
Rinduku mengganas jua

1 bulan 2 bulan 3 bulan
Belum jua hitungan jam dan hari yang lainnya
Aku semakin ringkih
Menanti tanggal dan jam yang berputar

Rinduku berteriak
"Pasang topengmu... Pasang topengmu..!!!"
Tak jua kupedulikan teriakan itu
Aku menutup telingaku
Merubah asaku, merebah badanku...lesu

Rinduku... Entah bagaimana dirimu. Aku yakin kau juga mengharapku.

Kediri, 17 Agustus 2014
Rindu

Tuesday, 8 July 2014

Beberapa Minggu Setelah Perpisahan Kecil Kita.

Untuk kamu, yang sedang berada di kampung halamanmu.

Jujur saja Tuan, setelah hari itu. Hari dimana kita tak akan bertemu untuk beberapa bulan kedepan, hari dimana sebuah perpisahan kecil akan dimulai. Jatungku bedegup cepat pagi itu, aku merasa ada yang kurang dengan penampilanku hari ini padahal biasanya aku juga seperti ini saat akan berangkat ke kampus. Tiba-tiba aku terkulai lemas di tepi kasur kamar kos ku. Aku diam selama beberapa menit. Entah apa yang membuat aku terduduk seperti ini. Aku mendongak ke atas. Dimana terpajang jelas foto kita berdua. Aku tersenyum kecil melihatnya. Kecut. Sedih. Aku merapikan kembali pakaianku dan bergegas menuju kampus.

Aku memarkir sepeda motor buntut bawaan dari rumahku. Aku bangga menaikinya. Setidaknya motor ini aku beli dengan uang sendiri. Sudah. Aku berjalan melewati korodor kampus. Menaiki anak tangga satu demi satu dan sampailah aku pada sebuah kelas yang sekarang terasa sangat bising namun kosong untukku. Aku belum melihatmu. Mataku tak mau diam, berusaha mencari sosokmu. Hatiku gemas ketika mendengar langkah kaki yang serupa dengan langkah kakimu dan ternyata itu bukan dirimu. Sampai dosen pengajar masuk, ku tak melihatmu. Ku coba mengirim pesan singkat padamu berkali-kali. Nihil. Tak ada jawaban. 

Selang beberapa menit, aku mendengar derap langkah kaki yang aku yakin itu pasti milikmu. Ya. Dugaanku tepat. Kamu memasuki ruang kelas dengan sangat santai tanpa peduli apapun. Aku semakin gemas dibuatmu. Ingin aku teriak di samping telingamu. Apakah kamu tidak melihat kecemasanku. Namun, lupakan saja tentang kecemasan dan sebagainya. Kini senyumku mengembang karena hadirmu. Terima kasih Tuan pemilik derap kaki yang membuat jantungku berdegup lebih cepat.

Kini tiba juga dimana kita berpisah. Ini hanya sementara, kamu meyakinkanku. Aku mengiyakan saja. Aku tahu, kamu lebih rapuh dan berusaha untuk tak membuatku menangis sebelum berpisah. Kamu mengajakku seharian penuh bersamamu. Mulai dari makan di warung soto kesukaan, makan icecream se-box penuh dan dibuat mainan serta hal-hal membahagiakan lainnya.

Namun, aku tak bisa menutupi bahwa sekarang aku benar-benar merindumu. Rinduku bertumpuk dengan sesak dipenuhi pilu. Tuan, aku merindumu. 

Kediri, 8 Juli 2014
Untuk KITA dan Rindu.

Sunday, 29 June 2014

Untuk Kau.

Untuk waktu, yang kurindukan
30 Juni 2014.

Yang temaram itu cahaya lilin, sayang
Yang meneduhkan itu terpaan angin, sayang
Yang melegakan itu aliran air di tenggorokan, sayang
Yang mampu menghujani berkah adalah bulan ramadhan, sayang

Sayangnya...
Aku tak mampu melihatmu sekarang
Aku terpisah jarak dan waktu denganmu sekarang
Aku semakin merindumu sekarang

Jika jarak tak membentang
Jika waktu tak membedakan
Aku ingin kau segera datang
Membawa keberkahan layaknya bulan ramadhan

Bukan dengan kejutan besar
Hanya dengan senyum ketulusan
Bukan dengan tatapan nanar
Hanya dengan rona kebahagiaan

Selalu ada doa untuk engkau yang kurindukan.

Kediri, Akhir Bulan Juni 2014

Thursday, 26 June 2014

Temaram.

Malam ini lampu dirumahku padam. Iya. Memang sedang ada pemadaman listrik di sekitar wilayah rumahku. Ya. Ibuku sudah mondar-mandir kesana kemari untuk menyalakan lilin. Aku hanya diam di pojokkan ruang keluar sembari melihat ibu sedang menaruh beberapa lilin disana. Aku bertanya pada ibu yang saat itu sedang menyulut api pada sebuah lilin di dekat televisi.

"Bu, jika lilin itu leleh. Apakah apinya akan segera padam?" tanyaku menerawang.

Ibu hanya tersenyum melihatku. Aku melihat senyuman tulus seorang ibu dibawah gelapnya malam diterangi cahaya lilin yang temaram. Ibu tak menjawab pertanyaanku. Mungkin ibu tahu, aku bertanya pada ibu hanya untuk mengurangi rasa takutku. Ibu kembali menyulutkan api pada sebuah lilin yang ada di sebelah fotoku pada waktu kecil. Aku melihat wajahku saat itu, padanganku nanar. Betapa dulu aku tak merasa punya beban saat hrus tertawa di depan kamera yang pada waktu itu Ayahku sendirilah yang memotonya. 

Akhirnya ibu selesai menyulut api pada lilin. Sekarang beliau duduk di sofa yang ada di depan televisi. Ibu menggebuk-gebukkan tangannya di sofa sembari berkata;

"Duduk sini, jangan disitu. Adem nduk." Ucapnya dengan logat Jawa yang kental.

Aku menurut saja dengan perintahnya. Aku duduk disamping ibu. Kusandarkan keplaku pada bahu terkuat yang selalu menopangku. Iya; bahu Ibu.

"Ibu, apakah aku kelak akan mendapatkan lelaki yang se-setia Ayah, bu? " Tanyaku tiba-tiba.

"Ya kalau kamu baik, kamu pasti akan mendapakan lelaki yang setimpal dengan kebaikanmu, nduk" jawab ibu sembari mengelus rambutku.

"Bu, jika kekasihku sekarang tak sebaik Ayah? Apakah engkau akan tetap menyukainya , bu?"

"Ibu hanya akan menyukainya jika kamu juga menyayanginya, nduk. Ibu yakin kamu dan kekasihmu akan terus saling memperjuangkan dalam kebaikan." Ucap ibu lirih, menguatkan.

Aku memeluk Ibu. Jika memang Ibu sudah mengatakan seperti itu. Aku sudah tak ragu jika melangkah bersamamu. Untuk kamu yang sekarang bersamaku. Kamu lelakiku. Bejanjilah, jika kamu tak akan menyakitiku dalam bentuk apapun; perasaan maupun perbuatan. Berjanjilah, untuk tetap berpeluk denganku; dalam suka maupun duka. Berjanjilah untuk selalu menjadi pahlawanku. Bukan hanya untuk 7 bulan kebelakang. Namun juga untuk bulan dan tahun kedepan. Aku mohon, berjanjilah...


Kediri, 27 Juni 2014


Monday, 9 June 2014

Jika Harus Berakhir Disini...

Ini kesalahan terbesarku. Menyembunyikan sesuatu yang pada akhirnya kau tahu. Ini jalan yang sulit untukku. Jika harus meninggalkanmu, aku merasa tak mampu. Namun, jika aku harus bertahan denganmu, aku takut semakin menyakitimu. Aku tahu, bahwa aku tak lebih menenangkan dari alkohol yang (aku percaya) saat ini sedang kau tenggak perlahan.

Ya jelas aku tak menenangkan. Toh, ini semua karenaku. Jika harus berhenti di sini, aku tak pernah tahu akan jadi apa aku nanti tanpamu, tanpa pelukmu, tanpa gandengan tanganmu. Jika harus berhenti di sini aku mersa tak sanggup jika harus membopong segala impian di masa depan yang telah aku susun rapi bersamamu.

Aku tahu, kamu pasti akan menganggap semua omonganku adalah hanya omong kosong semata. Tak dapat dipercaya. Jika aku di posisimu, aku akan seperti itu. Mungkin lebih dari apa yang kau lakukan padaku sekarang. Bukan hanya aku, mungkin kau sekarang juga sedang berusaha menempatkan dan menenangkan hati pada satu sudut yang tepat. Tanpa tedeng aling-aling sesungguhnya aku hanya ingin bersamamu saat ini. Aku ingin melihat bagaimana aku bisa menyakiti seseorang sebaik kamu. Bagaimana aku dengan bodohnya bisa melakukan hal sejahat itu kepada kamu; tercintaku.

Maaf. Jika tak mampu kutebus dengan maaf. Maka ijinkanlah aku membasuh perlahan luka yang aku gores dengan tajam. Maka setelah luka itu terlihat lebih baik, maka ijinkanlah aku merawatnya hingga sembuh. Akan kujaga dan tak akan kugores lagi. Aku berjanji. 

Jika harus berakhir di sini. Aku ingin sedikit senyum tulusmu mewarnai langkahku ke depan.Aku ingin berpeluk denganmu untuk menjadi kekuatanku menopang mimpi bersama. Serta menikmati secuil bibirmu untuk menjadi ketenangan yang paling damai.


Surabaya, 9 Juni 2014
"Jika harus berakhir di sini
aku tak ingin sendiri 
melangkah menuju masa depan 
dengan kau yang aku kasihi"

Friday, 6 June 2014

Sebuah rasa yang lebih dari sekedar rasa...

Bukan hanya sekedar rasa yang saya miliki untuk sebuah rasa. Bukan hanya sekedar rasa yang saya miliki untuk sebuah rasa yang sedang membuncah saat ini. Bagaimana jika rasa memang sudah menjadi lebih dari rasa? Entah, aku akan menyebutnya apa. Entah ini akan lebih pantas disebut apa. Saya bukan seseorang yang pandai  berkata tentang apa yang saya rasakan. Saya bukan seseorang yang pandai merasakan sesuatu dan menghilangkannya begitu saja. Terlebih ketika rasa ini telah memilihmu. Aku sudah tak mampu menyebutnya ini rasa apa. Bagaimana. Daarimana dan mengapa. Seglanya berjalan begitu saja. Segalanya telah termaktub teramat dalam karenamu.

Bukan hanya sekedar rasa. Entah aku menyebutnya apa. Aku selalu membayangkan bagaimana jika aku dan kamu telah menjadi satu. Aku selalu membayangkan hal0hal indah bersamamu. Aku selalu merangkai masa depan denganmu, kamu. Iya; kamulah tokoh utama dalam alur perjalanan hidup saya. Kamu sudah lebih dari sekedr kekasih. Kamu sudah jadi, pendamping hidup. Pelengkap hidup. Tempat bergantung, tempat berbagi, tempat menyandarkan segala hal yang melelahkan. Kamu; bahagia dan sedihku.

Betapa tak henti aku mengucap syukur pada-Nya. Ketika sujud dalam sepertiga malamku. Namamu selalu ada dalam daftar barisan orang yang aku doakan. Betapa segalanya telah menjadi apa-apa tentang kamu. Kamu; sempurnaku.


SURABAYA. 7 JUNI 2014
"Menunggu kepulanganmu"

Wednesday, 4 June 2014

Rindu.

Percaya atau tidak? Jika cinta itu selalu membutuhkan airmata. Entah itu airmata kebahagiaan atau airmata kesedihan. Ya; saya percaya dengan itu. Umpamakan saja jika sebuah pelangi muncul tanpa hujan?. Tidak mungkin, bukan?. Pelangi selalu membutuhkan hujan ketika dia kan muncul. Sma seperti cinta, dia selalu membutuhkan airmata sebelum bahagia. 

Tentang airmata yang saya paparkan di atas. Saya sedang bersamanya sekarang. Saya telah ditemaninya selama beberapa hari ini. Mungkin bukan beberapa hari namun sejak saya dan kamu terpisah beberapa jam saja, saya telah ditemani oleh airmata. Saya lebih tidak bisa berbohong lewat tindakan daripada ucapan. Saya mampu berkata bahwa saya baik-baik saja. Tapi airmata saya membongkar semuanya, saya tidak baik-baik saja.

Kamu. Sudah sekitar 6 hari ini saya tak bertatap langsung denganmu. Saya tak mampu menjamah tubuhmu. Saya tak bisa melihat indah lingkar senyummu. Saya telah bersama rindu yang kau kirim untuk menemaniku. Bukan saja airmata, saya kadang tertawa geli mendengar rekaman suara kita. Betapa suaramu selalu menenangkan. Betapa suaramu selalu menjadi obat paling manjur yang saya andalkan. Betapa tak pernah ada suara seindah suaramu.

Saya menangis kembali tadi malam. Jujur saja, saya sudah tidak mampu menyembunyikan rasa rindu saya padamu. Saya sudah tak mampu menahan gempuran rasa ingin bertemu denganmu. Saya menghitung hari, sudah seperti orang gila saja jika setiap hari saya berdoa semoga hari-hari yang ada cepat berlalu. Agar saya segera bertemu denganmu. 

Seandainya, sang waktu dapat mengerti.

Kediri, 5 Juni 2014.

Monday, 2 June 2014

Merindu Purnama


Ini hari ketiga aku tak bertemu denganmu. Rinduku semakin menggebu diiringi mendung kelabu di kota kelahiranku. Purnama merah jambu kini tersungkur lesu. Purnamaku. Kamu. Aku pulang kemarin, hari minggu 1 Juni 2104. Menaiki bus patas jurusan Surabaya-Blitar yang memang melewati kota kelahiranku, Kediri. Aku sebenarnya enggan beranjak dari rumah kos ku karena aku fikir ini hanya libur seminggu. Aku paling malas jika harus bolak balik Kediri-Surabaya. Namun, apalah daya seorang anak semata wayang seperti aku. Iya; ibuku. Beliau memaintaku pulang. Kangen katanya. Yasudah, sebagai anak yang cenderung luluh ketika mendengar rajukan ibu, aku memutuskan pulang.

Pagi hari. Minggu pagi, kamu masih sempat meneleponku dari rumah tempat tinggalmu. Iya, kamu pulang terlebih dahulu daripada aku. Aku masih mendengar suara beratmu lewat sambungan telefonku. Iya; aku sudah rindu pada saat itu. Entah kamu tahu atau tidak. Aku yakin kamu merasakannya. Aku berpamitan padamu, aku memintan izin untuk pulang. Kamu tak menjawab smsku. Aku fikir, kamu sedang tertidur lagi. Namun, lewat akun jejaring sosialmu kamu menulis kalimat ini :

"Hati-hati di jalan sayang :) Tuhan bersamamu, cintaku juga :D" .

Betapa senang aku ketika aku membaca kalimat itu. Aku emmang telat membacanya. Aku baru sempat membukanya ketika baru 5 menit aku merebahkan tubuhku di atas kasur empuk berbalut sprei pink kesayanganku. Segera aku membalas tweetmu itu. Begini :

"Terimakasih sayang, aku sudah sampai rumah dengan cantik kok :D"

Aku telah sampai pada hari ketiga. Iya; hari ini. Aku merindukanmu mungkin lebih dari sekedar merindu. Sungguh, jika saja jarak puluhan kilometer ini dapat aku lipat hanya untuk sekedar bertemu. Ah~ itu bukan harapan yang muluk kan menurutku. Aku hanya ingin bertemu. Memelukmu. Purnamaku.

KEDIRI. 2 JUNI 2014

Thursday, 29 May 2014

November Milikku.

Dear November,

Selamat Datang bulan November. 26 November 2013.
Hari itu kamu dan aku masih sama-sama tersipu. Terdiam dalam beku. Menyimpan rasa yang sebenaranya sudah meletup-letup layaknya popcorn yang selalu ada saat orang-orang menonton bioskop.
Aku masih ingat bagaimana wajahmu dari kejauhan menatapaku diam-diam seperti ingin menyampaikan sesuatu. Awalnya segalanya memang sedikit tersirat dari tatapanmu padaku. Aku juga ingat baju apa yang kamu pakai pada waktu itu. Celana dan bagaimana tatanan rambutmu pada waktu itu. Aku hanya berusaha tersenyum, meski itu tak menghangatkan setidaknya kau tenang dan tersenyum juga. Disitu, kau bertanya soal pertanyaan beberapa waktu lalu yang belum aku jawab "kamu mau jadi pacarku?" aku menjawab pertanyaan itu dengan pipi yang merona, menunduk, aku malu.

Sejak hari itu. Kamu telah menjadi milikku seutuhnya.

SURABAYA.
"Tentang 26 November 2013, milikku"